July 2008

Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
    1 2 3 4 5
6 7 8 9 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31    
Powered by Friendster Blogs

More SHOCKING pink..

Donna duduk di bangku kantin, berpikir keras. Ini gila…Apa maksudnya ini semua? Jadi Gilang mengambil kesempatan untuk mencium aku, lalu ada yang memotret… dan aku nggak sadar. Kemudian, foto itu dikirim ke friendster Baim dari profile yang baru dibuat. Baim bertanya kepada Tania. Dan jawaban Tania memperkuat foto tersebut. Jadi…. Aku udah punya cowok, terus aku mau selingkuh ama Baim…Caranya  dengan ngedeketin Baim lewat Tania terlebih dahulu. Tania sebenernya gak mau dijadiin mak comblang karena itu berarti membuka jalanku untuk selingkuh. Gila…….. Ini bener-bener gila… Bener-bener gak masuk akal…Mengaada-ada banget... Memutarbalikkan fakta..... Dan perkataan Baim yang terakhir, ‘Yah, kalo emank kamu bener-bener suka ama aku, putusin dulu cowok kamu….’, itu cuma ngebuat aku gak respek ama Baim.

            Donna menopangkan dagunya. Kenapa aku nggak sadar kalau aku dicium Gilang?Pasti waktu itu, aku lagi blank banget. Suasana di Hydro’s café saat itu remang-remang, bising, dan aku mungkin terlalu bingung oleh situasi seperti itu… Jadi, aku nggak sadar… Dan siapa yang tega motret adegan itu? Lalu mengirimkannya ke friendster Baim?

            Tania? Apakah Tania yang melakukannya? Siapa lagi selain Tania? Gilang atau Firman? Mereka sama sekali nggak tau tentang Baim…Apakah Tania? Donna beranjak dari duduknya, lalu mengambil botol aqua di meja depan, “Bu Lik! Aku bayar besok ya!”, seru Donna. Bu Lik, ibu kantin yang dimaksud menganggukkan kepala seraya berkata, “Oh iya! Ambil aja, mbak Donna!”. Stan kantin milik Bu Lik adalah langganan Donna. Itu membuat segalanya lebih mudah. Donna bisa menghutang. Donna lagi malas mengeluarkan dompet dari tasnya. Mood Donna tidak sedang bagus. Toh, besok juga Donna pasti bayar.

            

            Donna membanting tas selempangnya ke lantai, lalu ia menjatuhkan tubuhnya di atas sofa ruang tengah. Donna mengangkat telepon yang berada tidak jauh dari jangkauannya. Ia sudah mempertimbangkan dengan seksama selama perjalanan pulang dari sekolah ke rumahnya bahwa ia sebaiknya membicarakannya pada Tania. Ia baru mau menekan tuts angka yang ada di telepon sampai ia mendengar suara yang memanggilnya,

            “Donna.”

            Donna menoleh. Dion yang memanggilnya.

            Donna cukup terkejut. Mas Dion?

            “Ng… Ada apa mas Dion? Tumben ada di rumah siang-siang gini….”, tanya Donna. Jarang-jarang Dion mengajak bicara Donna dengan tatapan yang sangat serius.

            “Kamu ke pameran otomotif universitas A  ya?”, nada bicara Dion penuh dengan selidik.

            “Ha…. Ng, iya. Kenapa emank?”, tanya Donna.

            Dion menggeleng-gelengkan kepalanya. “Kamu emank gak ada bedanya ama mama, ama papa…”, kata Dion, sinis.

            Donna membelalakkan matanya. “Apa sih maksud mas Dion? Apa hubungannya pameran otomotif ama mama papa?”

            Dion tidak menggubris pertanyaan Donna, tetapi mengeluarkan laptop dari tas ranselnya. “Tunggu aja sampek kamu ngeliat foto-foto ini…”

            Donna mengangkat alisnya.

            Tidak lama kemudian, Dion menunjukkan foto-foto melalui monitor laptopnya. Donna membelalakkan matanya. Mulutnya menganga lebar, ia menutupnya dengan kedua tangannya. Dion terus menekan tombol panah kanan pada keyboard laptopnya. Foto-foto berkelabatan pada monitor laptop dan Donna tetap membelalakkan matanya. “A…apa ini?”, tanya Donna.

            “Masih nggak tau? Atau pura-pura nggak tau?”, Dion bertanya balik sambil menatap tajam ke dalam mata Donna. “Ini foto-foto kamu waktu di pameran otomotif! Aku baru aja menemukannya di file temenku yang juga panitia pameran itu. File foto-foto ini udah tersebar ke seluruh mahasiswa universitas A dan menjadi bahan tontonan cowok-cowok univ.A. Aku baru aja sadar kalo ternyata yang ada di foto itu, kamu, Don!”, jawab Dion ketus.

Donna baru ingat kalo kakaknya itu kuliah di Univ.A. Pertemuannya dengan Dion yang sangat jarang membuat ia lupa segalanya tentang Dion. Donna mengalihkan pandangannya dari monitor laptop ke Dion. Segalanya terasa jelas. Saat mengunjungi pameran otomotif, ia ingat betul ada yang memotretnya dari dekat. Ia terus-menerus mendengar suara jepretan kamera di dekatnya. Inikah hasilnya? Foto-foto itu menampilkan Donna dari segala sisi. Dari atas hingga bawah. Sedetil-detilnya, detil yang paling kecil, bahkan bagian-bagian yang tidak pantas untuk dipotret secara close-up-pun ada.

            Kejadian-kejadian di pameran otomotif mulai ikut berkelebatan di kepala Donna. Setelah ia merasa diikuti oleh seseorang, Gilang memperkenalkan anggota sie dokumentasi, Udik , yang baru saja memotret mereka. Lalu, saat pamit untuk pulang, Tania bertanya pada Gilang tentang apakah Gilang sudah mendapatkan sesuatu dan Gilang menjawab ‘sudah’. Apakah ini semua berhubungan? Baim? Tania? Hydro’s café? Lalu pameran otomotif?

            Pertanyaan Dion menjelaskan semuanya, “Siapa yang mengajakmu ke pameran otomotif?”

            Donna menjawabnya dengan ragu, “T…Ta…Tania….”

            “Yeah, Tania? Cewek ya? Kenapa fotonya nggak ada? Kenapa cuma kamu yang dipotret?”, tanya Dion.

            Donna bingung lalu melihat-lihat lagi foto-foto tersebut. Benar, tidak ada foto Tania.

            “Lagian, buat apa sih kalian ke pameran itu? Apa kalian ngerti tentang otomotif? Kamu tertarik ama mesin-mesin gitu?”

            Donna bingung mau menjawab apa. Buat apa? Aku memang mau karena diajak Tania dan juga untuk bertemu dengan Gilang… “Aku… aku tertarik kok…”, Donna mengelaknya.

            “Oh ya? Ah… nggak usah bohong deh! Kamu datang ke situ karena mau ketemu ama Gilang kan?” Donna merasa tertangkap basah. “Aku denger sendiri Gilang yang ngomong. Tau dia ngomong apa? ‘Gimana hasil kerja anak buahku ini? Tokcer abis! Lagian si cewek SMA ini tolol banget mau aja datang ke pameran otomotif. Diliat dari mukanya aja, dia tuh nggak nyambung ama mesin-mesin yang ada di pameran itu. Dia datang cuma buat ketemu aku loh!!’ Dia ngomong itu ama ketawa-ketawa gitu”, kata Dion. Donna memandang Dion dengan pandangan tidak percaya.

“Mas Dion bercanda kan?”

“Yah, terserah kalo gak percaya.. Toh foto-fotomu juga udah tersebar... Aku denger sendiri. Namamu juga disebut-sebut. Jadi nggak salah lagi deh..”, Dion masih melihat Donna dengan pandangan tajam. “Udah tau kalo univ.A tuh tempat mahasiswa cowok yang bakalan klepek-klepek kalo ada cewek, apalagi masih SMA kayak kamu, tetep aja datang ke pameran. Itu sama aja kayak menjatuhkan diri ke lubang buaya, tau gak?”, Dion menggeleng-gelengkan kepalanya.

            Donna mengalihkan pandangannya dari Dion. Kata-kata Dion sangat tajam, menusuk hati Donna. Donna memang sangat tidak nyaman saat pameran otomotif. Hanya mereka satu-satunya yang berjenis kelamin perempuan. Pengunjung lainnya rata-rata cowok.

            “Aku juga nggak tau kalo kamu bakalan ke sana. Temen-temen juga pada nggak tau kalo kamu tuh adikku. Jadi it doesn’t make a sense to me. Aku cuma mau bilang ke kamu aja, kalo kamu tuh nggak ada bedanya ama mama!”

            Donna mulai berkaca-kaca, “Mama? Apa sih maksud mas Dion?”, kata Donna dengan suara tinggi.

            “Huh… Hanya dengan melihatnya aja aku udah tau Don! Oke, dengerin pendapatku ya, kamu datang ke pameran otomotif karena ajakan si Tania itu, kayaknya Tania itu kerja sama dengan Gilang untuk motret kamu karena dia gak ikut dipotret…atau mungkin karena dia gak punya sesuatu buat dipotret? Nggak tau juga. Yang pasti mereka udah punya rencana itu, Don. Dan kamu…kamu mau aja datang, mau aja menerima ajakan Tania. Dan sekarang foto-fotomu tersebar…. Dan ini bukan foto biasa kan? Kamu liat sendiri… ini dah menjurus banget… Cara pengambilannya bener-bener gila.”

            Donna tidak bisa menahan untuk menangis. Ia mulai menarik benang merah dari semua peritiwa ini dan ini berujung ke Tania. Mulai dari ajakan Tania ke Hydro’s café, lalu kiriman foto ia sedang dicium Gilang di Hydro’s café ke friendster Baim, kemudian ajakan Tania ke pameran otomotif, lalu foto-foto ini….. Apakah ini perbuatan Tania? Benarkah? Untuk apa ia melakukan semua ini?

            “Terlalu mudah percaya orang lain…. Mudah dibohongi…. Mungkin itu sudah turunan keluarga ini ya….”, kata Dion dengan nada sinis.

            Donna sudah mendapat kejutan yang tidak menyenangkan hari ini karena foto-foto yang melecehkan dirinya tersebut, ditambah dengan kata-kata sinis dari Dion, Donna tidak tahan lagi, lalu ia beranjak dari kursinya, “Maksud mas Dion tuh apa sih?!!!”, tanya Donna dengan nada tinggi lalu air matanya mengalir dengan deras.

            Dion menatap tajam ke arah Donna.

"Aku.... Aku tuh....kaget banget ama foto-foto ini... bisa nggak sih diem bentar.... nggak ngomong yang macem-macem.....", Donna berkata dengan terbata-bata, mengiringi tangisannya. Dion diam, masih memandang Donna dengan tajam, menghela napas panjang, mengalihkan pandangannya dari Donna, lalu berkata, “Donna… Aku rasa sekarang saatnya kamu tahu… Duduklah….”, nada bicara Dion melemah hingga Donna menurut untuk duduk kembali. Wajah Dion sangat serius, tidak seperti biasanya. Donna belum tahu bahwa Dion akan mengatakan sesuatu yang membuat hidup Donna berubah.

                            

Shocking Pink

Donna tersenyum sendiri membaca SMS dari Gilang yang tertera pada layar ponselnya.

            Gilang : “Selamat pagi tuan putri… Pasti sekarang lagi siap-siap berangkat ke sekolah… Ati-ati ya di jalan…”

Donna semakin dekat saja dengan Gilang setelah kunjungan ke pameran otomotif beberapa hari yang lalu. Kemarin sore, Gilang datang ke rumah Donna. Ngobrol-ngobrol dan nggak terasa udah dua jam mereka duduk di kursi teras rumah Donna. Well, Donna menemukan sosok dewasa seorang Gilang and it makes Donna interested. Sejauh ini, Donna merasa enjoy banget ngobrol dengan Gilang dan itu membuat jantung Donna berdegup kencang. Donna meletakkan ponselnya di meja rias dan ia mulai berkaca pada cermin di hadapannya. Donna menyisir rambut panjangnya lalu menjepit poninya. Ia tersenyum lebar lalu membalikkan tubuhnya untuk mengambil tas sekolahnya.

            Sesampainya di sekolah, seperti biasa Tania menghampiri Donna dan mulai berceloteh ria. Lalu, Tania berhenti setelah ia melontarkan pertanyaan, “So.. Gimana kabarnya Gilang?”

            Tiba-tiba Donna merasakan wajahnya memanas. “Um … Gilang…”, kata Donna sambil tersenyum malu.

            “Ahahhaa! Kok jadi salting gitu sih, Donna? Ihi…!!! Sekarang jadi ngincer Gilang nih? Trus gimana si Baim??”, goda Tania.

            Senyum Donna menghilang. Baim… Aku malah lupa masalah Baim… Gara-gara keasyikan ama Gilang….,batin Donna.

            “Loh… Jadi dah lupa ama si Baim ney? Yah, usahaku untuk ngedeketin kalian berdua sia-sia dong…!!”, kata Tania sambil menunjukkan wajah cemberut.

            Donna segera saja berkata, “Oh, Tania.. Ng.. Bukannya gitu… Aku terima kasih banget kalau kamu udah berusaha buat aku tapi.. Baimnya sendiri yang ngejauhin aku…”. Donna lebih baik menjelaskan alasan kenapa Donna tidak dekat lagi dengan Baim daripada Tania menganggap bahwa usahanya sia-sia.

            “Ngejauhin kamu??”, tanya Tania dengan nada kaget. Sepintas Donna merasa bahwa nada bicara Tania sedikit berlebihan.

            “Iya…”

            “Mulai kapan?”, tanya Tania, masih dengan nada tidak percaya.

            “Udah satu minggu yang lalu… Baim udah nggak pernah ngehubungin aku lagi”

            “Masa’ sih?! Wah… ada yang nggak beres nih! Mending aku tanya langsung ke Baim deh!”, kata Tania, lalu membalikkan tubuhnya.

            Donna menarik tangan Tania. “Eh, Tania! Nggak usah deh… Udah, biarin aja….”

            “Tapi…”

            Donna menggelengkan kepalanya, “Kalo emank Baim ngejauhin aku, ya udah biarin aja… Gak perlu diperpanjang lagi… ”

            “Tapi gimana dengan perasaan kamu Don?”

            Donna tersenyum, “Ya udah.. Biarin aja….”

            Tania mengernyit, lalu berkata, “Yee… Udah ada Gilang siy.. Makanya Baim menjauh juga gak papa. Ya kan? Hehehe!”

            Sebenarnya Donna masih menyimpan perasaan terhadap Baim. Ia tidak akan semudah itu menghilangkan perasaan sukanya. Yang membuat Donna penasaran saat ini adalah alasan kenapa Baim tiba-tiba menjauh. Dan saat ini, saat kegiatan belajar mengajar berakhir, di perpustakaan, di depan Donna, berdiri Baim yang sedang memilih-milih buku perpustakaan. Ini adalah kesempatan yang tepat untuk bertanya pada Baim. Mereka hanya dipisahkan oleh rak buku perpustakaan. Kebetulan perpustakaan juga sedang sepi. Donna merasakan jantungnya berdegup kencang. Ia menarik napas panjang, lalu berjalan mengitari rak buku tersebut dan berdiri di sebelah Baim.

Donna berkata dengan tersenyum lebar, “Hai, Baim..”

Baim menoleh dan terlihat kaget. “Eh, Donna…

Ada

apa?”

Donna menutup matanya sejenak dan menarik napas panjang-panjang, lalu berkata, “To the point aja ya.. Kenapa kamu ngejauhin aku?”, tanya Donna, tidak mau bertele-tele.

Baim memandang Donna dengan tatapan bingung. Lalu mengalihkan pandangannya. “Ng.. Itu…Ng….”

Donna menunggu jawaban Baim. Baim menatap Donna lagi, lalu mengalihkan pandangan lagi.

“Ngapain kamu tanya? Bukankah sudah jelas?”, tanya Baim.

”Yah, aku pengin tahu aja”, jawab Donna.

Baim memandang Donna dan menjawab, ”Ada yang mengirimkan foto ke friendsterku..”.

            Donna mengernyit, “Foto? Foto apa?”

            “Yah… iya.. ada yang nge-submit foto ke fs-ku... Di foto itu, ada kamu… lagi dicium ama cowok..”, jawab Baim pelan.

            “Dicium?”, Donna memandang Baim dengan tatapan aneh. Jawaban yang tidak masuk akal karena ia tidak merasa pernah dicium..seorang cowok.

            “Iya, dicium…cium pipi sih… tapi…”

            “Dicium? Kok aku nggak tahu kalo…”, tanya Donna, masih merasa aneh. “Siapa? Siapa yang mengirim?”

            “Yang ngirim foto itu sih namanya Anita, tapi nggak ada fotonya di profilenya… Jadi seperti profile yang baru dibuat”

            Donna diam, ia berpikir keras. Dicium? Ia belum pernah dicium cowok. Sama sekali tidak pernah! Apakah Baim berbohong?

            “Boleh aku lihat fotonya?”, tanya Donna.

            “Hm? Ngapain? Harusnya kamu udah punyalah…”, kata Baim. “Udahlah Don… Kalo emank kamu udah punya cowok, ya udah… Jangan mainin perasaan gini dong… Aku nggak bakal mau jadi selingkuhan kok…. Aku benci banget ama yang namanya mendua. Aku kira kamu jomblo, makanya aku ngedeketin kamu. Kalau ternyata kamu udah punya cowok, yah kamu juga kenapa tetep nerima-nerima aja kalo aku deketin?”

            Donna seperti tersiram air panas. Ia mulai mengerti kenapa Baim menjauhinya…dan maksud pengiriman foto tersebut...

            “Please, Baim! Ini penting banget… Aku cuma pengin tahu apa yang bisa ngebuat kamu tiba-tiba menjauh kayak gini…. Please….”, desak Donna. Ia tidak menggubris perkataan Baim.

            “Loh.. Kan udah jelas? Aku ngejauhin kamu karena kamu udah punya cowok!”

            “Aku tuh belum punya cowok!”

            “Terus foto itu?”

            “Makanya aku mau lihat!”, Donna sedikit tidak sabar untuk melihat foto bahwa ia dicium cowok.

            Baim menggelengkan kepalanya, lalu melihat Donna dan mengangguk.

            “Oke, kita ke warnet..”

            Donna tidak percaya ini. Dalam foto itu, ia sedang dicium Gilang… dicium di pipi tapi ekspresi dari Gilang terlihat begitu menikmati dan ekspresi Donna tesenyum seakan ia menerima dicium oleh Gilang. Foto itu diambil saat perayaan ulang tahun Firman di Hydro’s café. Donna tidak habis pikir. Kenapa ia tidak ingat sama sekali bahwa Gilang mencium Donna. Apakah karena situasi bising di Hydro’s café? Apakah karena Donna sudah tidak sadarkan diri akibat larutnya malam? Apakah …? Terlebih lagi, siapa yang memotret ini? Apakah ini disengaja atau tidak disengaja?

            “Ini….nggak mungkin”, gumam Donna.

            “Nggak mungkin gimana, Don? Ini… Ini sudah jelas

kan

…? Itu pacar kamu

kan

?”

            “Hah? Aku…”, pandangan Donna masih tertancap pada monitor komputer di depannya. “Itu bukan pacar aku.. Aku sama sekali nggak pernah…”

            Donna menoleh ke arah Baim, “Kenapa kamu bisa percaya sama foto ini , Baim? Bisa aja ini foto lama.. dan mungkin aja itu mantan aku kan?”, tanya Donna. Lalu, ia meneruskan dengan  gumaman, ”Walaupun dia bukan mantan aku sih…”

            “Yah… tentu aja aku nggak percaya begitu aja… Aku sempet tanya ke Tania.”

            Tania?

            “Aku tanya kalo mungkin akhir-akhir ini, kamu ama Tania pergi ke mana gitu… Hang out ke mana, gitu… Terus itu

kan

di Hydro’s café. Tuh, ada tulisannya di dinding belakangnya.” Donna melihat tulisan ‘Hydro’s café’ yang tertera pada foto yang dimaksud.

            “Terus Tania bilang apa?”, Donna semakin tidak sabar untuk mendengar jawaban Baim.

            “Dia bilang… ‘Iya, emank kita berdua sempet ke Hydro’s café sabtu kemaren.. Sebenernya Donna tuh udah punya cowok… Sorry ya Baim, abis Donna tuh yang maksa-maksa aku untuk mak comblangin kamu ama Donna’. Gitu tuh Tania jawabnya…”

            Donna membelalakkan matanya. Tania? Tania berkata seperti itu? Apa maksudnya?

            “Baim! Kamu nggak bohong kan?”, tanya Donna, sangat tidak percaya.

            “Yah, ngapain juga aku bohong… Mending kamu tetep setia aja ama cowok kamu itu Don…. Jangan selingkuh… Yah, kalo emank kamu bener-bener suka ama aku, putusin dulu cowok kamu…. Oke?”, kata Baim sok diplomatis. Melihat Donna yang kagetnya nggak karuan dan terlihat seperti berada di dunia lain, Baim cepat-cepat pamit sebelum sesuatu yang tidak diinginkan terjadi, “Ya udah ya… Aku cabut dulu…”, kata Baim, lalu meninggalkan Donna sendirian di warnet.

            Donna tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya. Am I dreaming?

                                             ......To Be continued.........

Again with Tania

“Donnaaaa……..!!!!!!”, panggil Tania dengan teriakan keras dari lantai dua. Donna mendongakkan kepalanya. Itu Tania, sedang melambaikan tangannya. Itu menandakan Tania sedang sangat bahagia dan itu berarti seharian ini Tania akan menjadi lebih menghebohkan daripada biasanya. Kelas Donna memang berada di lantai dua. Jadi, Donna tidak perlu mengeluarkan tenaga lebih untuk memenuhi panggilan Tania.

Sampai di lantai dua, Tania langsung berada tepat di hadapan Donna dan berkata, “Hai, Donna! Pakabar??!!!! Hehehhehee…. Eh, gimana? Kita jadi dateng ke pameran otomotif itu kan?”. Donna meneruskan langkahnya ke kelas, diikuti Tania. Ternyata pameran otomotif itu yang membuat Tania heboh begini.

“Oh, pameran itu…”

“Iya! Jadi, ya! Hari sabtu ya! Oke oke! Entar aku bilang ke Firman deh kalo kita dateng!” Pameran otomatif itu akan diadakan di lapangan parkir umum universitas A. Pameran yang akan menampilkan kendaraan hemat energi dari perusahaan-perusahaan mobil dan sepeda motor. Selain pameran otomotif, ada pula acara seminar, uji emisi dan tune up kendaraan untuk pengunjung. Begitu yang Donna dengar dan Donna sebenarnya sama sekali tidak tertarik…. Gilang dan Firman adalah anggota dari event organizer yang menangani acara ini. Donna sering mendengar promosi di radio tentang acara ini. Di setiap akhir promosi, penyiar radio selalu berkata, “Keterangan lebih lanjut, hubungi contact person ini ke Gilang dengan nomor 08155009799”. Nama Gilang tersebut membuat jantung Donna sedikit lompat beberapa millimeter. Donna sadar ia sedikit tertarik dengan Gilang di saat ia hampir putus asa dengan Baim yang tetap menjauhi Donna. Dan karena alasan itulah, Donna mengiyakan ajakan Tania..untuk bertemu Gilang. Well, okay.. sekaligus menambah wawasan tentang otomotif…..

Hari Sabtu pun tiba. Sepulang sekolah, Donna berangkat dengan mobil Tania, menuju Universitas A. Yang membuat Donna menggelengkan kepalanya adalah saat Tania membubuhkan bedak pada pipi tirusnya. “Tania… sempet ya pake bedak?”, tanya Donna.

“Hah? Pertanyaanmu aneh niy… Kan mau ketemu cowok-cowok kuliahan itu, jadi kita harus dandan maksimal dong! Ayo, kamu juga pake’!”, sergap Tania, lalu Tania membubuhkan bedak pada Donna dengan cepat. Spontan, Donna memundurkan tubuh ke belakang.

“Hahahahhahaa! Donna ini… Kan mau ketemu Gilang? Hayo… Eh tapi inget Baim ya…”, kata Tania dengan centil. Yah, Tania memang belum tahu masalah Baim dan Donna. Tania menyodorkan bedaknya kepada Donna. Donna menerimanya. Ya apa salahnya pake bedak? Donna mengusapkan bedak pada wajahnya, sementara Tania mengusapkan lipgloss pada bibirnya.

Sesampainya di lapangan parkir Univ.A, Donna membelalakkan matanya. Kenapa yang datang cowok semua??? Damn… I forgot…. Ini Universitas A… Gudangnya cowok-cowok teknik…. Dan.. Seragam SMA ini….?, Donna melihat seragam SMA yang dikenakannya. Ini lebih mirip tersesat daripada ngeliat pameran otomotif… Donna melihat sekelilingnya. Mobil-mobil berjejer di sepanjang lapangan parkir. Para pengunjung terlihat berkerumun pada salah satu petugas di stan pameran atau ada yang melihat-lihat saja. Donna semakin merasa tidak nyaman karena beberapa pasang mata mulai melihat aneh ke arah mereka berdua. Donna melihat ke arah Tania. Tania terlihat sangat percaya diri…..seperti biasanya.

Donna dan Tania mengitari lapangan parkir umum Univ.A tersebut. Mereka telah sampai di mobil terakhir yang dipamerkan, tapi tidak ada yang membuat Donna tertarik. Menambah wawasan? Bahkan Donna sama sekali tidak mengerti apa yang membuat mobil-mobil tersebut hemat energi. Meskipun petugas-petugas yang berada di stan tersebut memberi penjelasan toh Donna tetap tidak mengerti. Ditambah dengan rasa tidak nyaman akibat pandangan mata pengunjung lain, penjelasan petugas stan sama sekali tidak masuk ke otak Donna.

Tidak hanya itu, dari tadi Donna merasa ada yang mengikutinya. Sepintas, Donna mendengar seperti ada suara jepretan kamera di dekatnya. Ia merasa dipotret seseorang. Namun saat ia melihat ke belakang, terlihat beberapa pengunjung memotret mobil-mobil yang dipamerkan. Donna mengernyit. Ia menggelengkan kepala dan meyakinkan dirinya bahwa itu hanya perasaannya saja. GR banget sih Don.. Memang siapa yang mau motret aku?, batin Donna.

Lalu, Tania berteriak, “Eh, itu Firman!”, Donna melihat ke arah yang ditunjuk Tania. Firman sedang berjalan cepat ke arah stan yang berada di sebelah kiri Donna. Firman tidak melihat Donna dan Tania. Ia terlihat sedang sibuk berbicara pada handy talkie yang digenggamnya. Tania berjalan cepat ke arah Firman, diikuti Donna.

“Hei!”, Tania menepukkan telapak tangannya pada bahu Firman. Sontak, Firman menoleh lalu tersenyum lebar.

“Hei, Tania! Donna! Kalian datang juga! Kirain nggak dateng loh.. Ditungguin dari kemarin.. Kenapa gak bilang-bilang kalo hari ini mau ke sini?”, tanya Firman.

“Oh iya, surprise! Hehehe”, jawab Tania.

“Oh itu dia! Si Gilang! Wah, pasti nyari-in Donna tuh! Hahahaha!”, seru Firman. Donna dan Tania menoleh ke belakang. Tampak Gilang berjalan cepat ke arah mereka bertiga dengan melambaikan tangannya.

“Hai!!! Wah, ternyata kalian datang ya..”, Gilang berkata terputus-putus seperti kehabisan napas. “Hm.. Gilang niy kayak habis jogging keliling kota deh… capek banget ya?”, tanya Tania.

“Yah, begini… Capek banget….. Dari tadi ada beberapa problem di beberapa stand. Tapi dah beres sih”. Gilang memberikan senyuman pada Donna. Donna mengalihkan pandangannya. Ia tidak sanggup bertatapan mata dengan Gilang terlalu lama. Jantungnya tiba-tiba berdegup kencang.

“Yah… Untunglah kalian datang! Kalau enggak, bisa hambar deh pameran ini. Biasanya kan kalau pameran otomotif begini, ada cewek-cewek SPG tuh.. Yang seksi-seksi. Beuh… HOT banget.. Hahahhahahhahahaha!”, celetuk Firman.

Tania bertanya, “Loh, memang sekarang nggak ada SPG?” “Yah, ini kan kampus, bukan mall. Jadi kagak ada SPG-SPGnya gitu.. Yang ada yah petugas-petugas kecut kayak gitu tuh… Sepet deh….”, jawab Firman sambil menunjuk para petugas laki-laki yang berjaga di stan-stan pameran.

“Tapi kalau ada kalian mah seger aja! Hehehehehehe…!!!”, jawab Firman. Tania, Firman, dan Gilang tertawa tapi Donna hanya tersenyum. Ia bahkan tidak tahu apa yang harus ditertawakan. Bukankah perkataan Firman itu sama seperti mempersilkahkan Tania dan Donna datang hanya untuk menggantikan SPG.

“Ckrek!”, suara jepretan kamera terdengar dari belakang Donna. Donna menoleh dengan cepat. “Eh, Udik! Maen jepret-jepret aja nih…! Daripada gitu, mending aku kenalin nih ama daun muda… Haahhaha!”, seru Firman.

“Oh iya..Hehehe..”, kata cowok yang dipanggil Udik oleh Firman. Donna mengernyit, apakah memang dari tadi ada yang memotretnya? Si Udik ini? Donna menepis pikiran negatifnya. Lalu, mengikuti Tania, berkenalan dengan Udik. Udik adalah sie dokumentasi, terlihat dari kartu identitas yang dikalungkannya, tertulis “Sie dokumentasi”. Donna melihat tulisan yang sama pada kartu identitas Gilang. Donna yang sedari tadi diam, bertanya “Loh, Gilang… Kamu sie dokumentasi juga? Kok nggak potret-potret?”

“Iye, kan koordinator… Jadi tinggal nyuruh-nyuruh anak buahnya nih…. “, jawab Udik sambil menunjuk dirinya sendiri.

“Haha.. Ya nggak gitu juga sih! Aku bantuin bidang lain juga.. Soalnya kekurangan orang siy..”, jawab Gilang. Selanjutnya, Udik pamit untuk meneruskan pekerjaannya, sedangkan Firman, Gilang, Donna, dan Tania berjalan menuju pameran tentang alat dan mesin di sebelah timur parkiran. Gilang dan Firman menjelaskan alat dan mesin tersebut namun tetap saja Donna tidak mengerti. Tidak seperti Donna, Tania tampak mengerti karena ia berulang kali menganggukkan kepalanya dan bertanya-tanya tentang alat dan mesin tersebut pada Gilang dan Firman.

“Nah, gimana? Keren kan pamerannya?”, kata Firman.

“Iya keren banget!!”, jawab Tania. Donna hanya tersenyum.

“Nah, kalo gitu, aku ama Donna pulang dulu ya? Udah dapet kan?”, tanya Tania kepada Gilang dengan tatapan sangat flirty.

“Oh oke. Hahahha!! Udah dong! Thanks ya…!”, jawab Gilang.

“Udah dapet. Dapet apa, Tania?”, tanya Donna.

“Ada deh……………. Hehehhehe”, jawab Tania. Donna mengangkat alis. Tidak biasanya Tania bersikap menyembunyikan rahasia seperti ini. Namun, Donna lega dapat meninggalkan tempat yang sangat tidak nyaman ini. Yah, walaupun ketidaknyamanan itu tertutup sedikit karena Donna bertemu Gilang tapi tetep saja tidak nyaman.

….to be continued…..

Brother

Donna mengambil setangkup nasi dan satu buah telur mata sapi ke dalam piring di depannya. Ia tidak memiliki selera untuk makan. Tapi makan pagi adalah rutinitas yang tidak bisa ditinggalkan Donna (yah.. kecuali puasa). Tidak makan pagi untuk Donna sama dengan menumbuhkan bad mood seharian penuh dan itu bahaya. Kalau udah bad mood, rasanya males mau ngapain aja. That’s not good at all. So, here she is, having breakfast. Makan pagi hari ini seperti biasa,

Donna makan bersama Dio. Ayah pergi ke kantor, Dion yang kuliahnya selalu masuk siang masih tidur di kamarnya, ibu pergi ke sanggar senam (dengan jadwal rutin setiap jam 6 pagi senin sampai jumat). Jadi, hanya Donna dan Dio yang makan pagi. Donna duduk di sebelah Dio. Well, sebenarnya mereka tidak harus duduk bersebelahan setiap makan pagi.. tapi entah kenapa, sepertinya masing-masing anggota keluarga memiliki kursi favorit masing-masing untuk makan. Donna selalu duduk di kursi yang menghadap ruang keluarga, Dio duduk di sebelah kirinya. Dion duduk di kursi yang menghadap dapur, ibu Donna duduk di sebelah kiri Dion. Ayah duduk di kursi yang menghadap taman. Entah sejak kapan kursi-kursi itu dipatenkan pemiliknya. It’s automatic. Masing-masing anggota keluarga tidak akan duduk di kursi selain kursi favoritnya. Donna mendengus, memandang meja makan berbentuk persegi panjang itu. Meskipun tiap anggota keluarga memiliki kursi favorit masing-masing toh mereka tidak pernah makan bersama. Donna mengingat-ingat kembali, kapan ya terakhir kali mereka makan bersama? Namun sebelum Donna menemukan jawabannya, Dio bertanya, “Mbak Donna, ini telurnya Dio ambil ya”.

Donna melihat telur sisa yang dimaksud Dio. Telur yang dihidangkan berjumlah tiga padahal hanya Dio dan Donna yang makan pagi. “Iya ambil aja”, jawab Donna singkat, lalu memulai satu suapan makan paginya. Mungkin telur itu untuk Dion, tapi Donna tidak memikirkannya. Toh Dion bisa meminta untuk dimasakkan telur mata sapi lagi.

Donna melirik ke arah Dio. Ia memang belum pernah mencoba untuk ngobrol dengan Dio tentang keganjilan keluarga ini. Yah, sebenernya ngobrol ama Dio tentang masalah lain aja belum pernah. Dio makan dengan pelan tapi pasti. Memasukkan makanan ke dalam mulutnya dengan sangat rapih, mengunyah dengan perlahan. That’s Dio. Selalu tenang, diam, pelan. Donna bahkan tidak pernah tahu tentang Dio, kecuali ia pintar, penurut, tenang, diam, pelan. (pengulangan sifat-sifat yang telah disebutkan sebelumnya karena Donna telah kehabisan kata-kata untuk mendeskripsikan Dio) Donna memang satu atap dengan Dio, tapi ia tidak kenal dengan Dio. Donna menutup matanya dengan keras. Damn… I’ve just realized it! Padahal kan aku ama Dio hampir tiap pagi makan bareng! Yah, walaupun makan pagi bersama…toh masing-masing memiliki kesibukan. Kadang-kadang Donna makan sambil mendengarkan mp3 player. Kadang-kadang Dio makan sambil membaca buku. Kadang-kadang mereka hanya menonton televisi yang ada di ruang keluarga sambil membisu. Donna tidak pernah tahu Dio yang sebenar-benarnya. Donna makan dengan lahapnya untuk membuang pikiran-pikiran tentang keluarganya. Dalam lima menit, piring di hadapannya telah kosong tak bersisa. Lalu, Donna melihat jam dinding yang ada di ruang makan. Pukul 06.20. Kegiatan belajar mengajar di sekolah dimulai pukul 06.45. Waktu yang diperlukan untuk sampai di sekolah dengan menggunakan mobil adalah 10 menit. Jadi masih ada waktu 10 menit lagi sebelum berangkat ke sekolah.

Donna dan Dio berangkat ke sekolah dengan mobil yang dikendarai sopir. Sekolah Donna dan Dio searah. Sekolah Dio lebih jauh tapi kegiatan belajar mengajar di sekolah Dio dimulai pukul 07.00. Jadi, Donna diantar terlebih dahulu sebelum Dio. Donna meminum segelas air putih. Perutnya terasa penuh tapi semangatnya mulai memuncak, siap untuk menyambut hari ini. Donna melirik Dio lagi. Dio masih belum selesai makan. Donna menopang dagunya. Lalu ia memanggil Dio, “Dio..”.

Dio menoleh dan menjawab, “Iya, ada apa, Mbak?”.

Donna tidak tahu untuk apa ia memanggil Dio, jadi Donna mengeluarkan pertanyaan yang baru saja terlintas di benaknya, “Gimana? Dah jadi anak SMP nih… Temen-temennya gimana?”.

Yap, tahun kemarin, Dio berhasil masuk ke SMP favorit –sesuai dugaan dan tidak mengejutkan—dengan NEM tertinggi se-SD-nya. Well, itu membuat sekolahnya menjadi masuk peringkat 10 besar NEM tertinggi di Jawa Timur. Donna ingat, sekolah dasar negeri Makmur 15, tempat di mana Dion, Donna, dan Dio disekolahkan bukanlah sekolah dasar yang memiliki nama di kota Malang. Tapi sepertinya Dio akan membuka sejarah baru bagi sekolah dasar di dekat rumah Donna itu karena Dio telah membuat nama SD tersebut tersohor seantero Jawa Timur. Kau memang sangat berjasa, Dio…Pahlawan sekolah dasar negeri Makmur 15, batin Donna, sedikit berlebihan. Dio memandang Donna dengan kosong. Lalu menjawab,

“Yah temen-temen baik-baik aja..” Bukan jawaban yang diharapkan Donna tapi itu sudah biasa. Jawaban yang singkat tapi tidak jelas.

“Oh….. O iya, Dio ikut ekskul apa?”, tanya Donna. Ia sekilas melihat kalender di dinding sebelah lemari es. Sekarang udah bulan Maret. Ekskul seharusnya sudah dipilih semester lalu.

Dio menjawab, “Catur”. Donna sangat tidak terkejut dengan jawaban Dio. Tapi catur….membosankan banget seh…..

“Oh ya ya…. Suka catur ya? Nggak ada lombanya?”

“Ada.. Baru aja menang minggu lalu…”

“Ha? Menang? Dio menang lomba? Juara satu? Satu kabupaten?”, tebak Donna dan diikuti dengan anggukan kepala Dio.

“Juara satu kabupaten?”, Donna mengulang pertanyaannya.

“Iya, Mbak..”, Dio melanjutkan makannya.

“Apa..nggak diliput ama wartawan koran?”

“Diliput kok di harian KOTABARU.. Tapi kolomnya kecil.” Donna sama sekali tidak tahu tentang itu. Dio juga tidak memberitahu sedikitpun kepada anggota keluarga yang lain. Parah…parah…dan apakah orang tua mereka tahu tentang kemenangan Dio.

“Dio udah beritahu mama papa?”, tanya Donna. Dio diam sejenak lalu tersenyum sinis.

“Belum” Donna bertanya-tanya apa arti dari senyum sinisnya itu. Apakah Dio juga merasakan hal yang sama tentang keluarga ini? Apakah Dio ternyata masih memiliki perasaan setelah berabad-abad terkurung dalam kamarnya yang kecil?.

“Kenapa?”, tanya Donna.

“Bukankah mbak Donna sudah tau jawabnya?”, tatapan mata Dio terlihat sangat misterius dan penuh selidik.

“Maksudnya?”

“Apakah dengan memberitahukan kemenangan ini, papa akan cuti kerja dan mama akan berhenti berpura-pura?” Donna diam. Kata-kata Dio sangat tepat seperti panah yang mendarat pada titik di tengah-tengah Darts.

“Tidak penting apakah aku memenangkan lomba atau meraih juara toh itu semua tidak akan menghilangkan sesuatu yang membuat mama selalu berpura-pura tersenyum seolah tidak ada apa-apa atau membuat papa peduli pada keluarganya.” Donna terhenyak mendengarkan Dio lalu ia menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi. Ia mengalihkan pandangannya pada jam dinding. Pukul 06.30.

“Yah, Dio. Udah jam setengah tujuh. Kita berangkat sekarang yuk..”. Donna beranjak dari kursinya, ia mengakhiri dialog ‘pendek tapi tepat’ dengan Dio. Maksud dari pertanyaan Dio barusan membuktikan bahwa Dio juga merasakan hal yang sama dengan Donna. Mengetahui bahwa bukan hanya Donna yang merasa asing dengan keluarga ini adalah sebuah kelegaan yang luar biasa bagi Donna. Selama ini, Donna mengira bahwa hanya Donna yang terasing. Tapi rupanya memang ada yang salah dengan keluarga ini. Seperti ada sesuatu yang masih tersembunyi dan Donna harus menemukannya. Donna hampir putus asa dengan situasi ini. Keluarga yang tidak seperti keluarga.

Donna mengambil tasnya lalu menuju mobil yang terparkir di garasi. Ia melewati pigura-pigura foto yang berjejer di atas meja. Donna, Dio dan Dion saat masih kecil dalam satu frame. Donna, ibu, dan ayah dalam satu frame. Dion, Donna, dan ibu dalam satu frame. Dio dan ayah dalam satu frame. Lagi-lagi Donna baru menyadari bahwa pigura-pigura foto itu adalah suatu kamuflase. Memang foto-foto itu meperlihatkan kebersamaan tapi tidak ada foto satu keluarga dalam satu frame atau bahkan foto ibu dan ayah dalam satu frame. “Apa Donna merasa kalau papa bukan ayah kandung Donna? Benarkah? Kalau memang itu benar, apa yang akan Donna lakukan?”, kata-kata ayah yang diucapkan beberapa hari yang lalu tiba-tiba muncul dalam benak Donna. Pikiran Donna terlalu dipenuhi sosok Baim hingga kata-kata ayah yang sangat ganjil itu teringat kembali. Namun, wajah Donna mirip dengan ayahnya. Perasaan Donna sedikit plong. Itu benar. Garis-garis wajahku sangat mirip dengan ayah. Hanya Donna yang mirip dengan ayahnya, sedangkan Dion dan Dio mirip ibunya. Donna berusaha meyakinkan dirinya bahwa ayahnya tidak serius saat mengeluarkan pertanyaan tentang ayah kandung atau bukan tersebut. Donna hanya buang waktu bila menanggapi lelucon ayahnya.

Dio menyusul Donna masuk ke dalam mobil. “Cepet ya, Pak… Udah mau telat…”, kata Donna yang disusul dengan jawaban pak Ridwan, sopir yang telah bekerja sejak Donna masih kecil itu dengan tegas, “Ya,mbak” dan mobil pun melaju. ….To Be continued…

Preparation of breaking her heart

            Hujan mulai turun dengan deras diiringi angin yang bertiup sangat kencang hingga kaca jendela kamar Donna berderak. Suara petir terdengar beberapa kali, memekakkan telinga. Donna menyalakan televisi, mengeraskan volumenya, mengubah-ubah channel, lalu berhenti pada channel musik. Ia merebahkan tubuhnya pada tempat tidurnya yang empuk. Lalu, Donna menutup matanya. Ingatannya mundur menuju peristiwa beberapa tahun lalu.

===========================================================

            Saat itu, cuaca sangat cerah, terik matahari menyengat kulit Donna. Tapi Donna tidak peduli. Ia terus melihat Baim bermain basket di lapangan tengah. Donna berdiri di ujung lapangan, menggenggam erat tas selempangnya. Kegiatan belajar mengajar telah selesai satu jam yang lalu, murid-murid telah berhamburan keluar dari sekolah. Ini hari Sabtu. Setelah kegiatan belajar mengajar selesai, sekolah pasti sepi. Tidak ada yang nongkrong sampai sore seperti hari-hari lainnya. Mereka memilih untuk menikmati weekend di luar sekolah.

            Donna juga baru saja akan pulang, tapi ia terhenti saat melihat Baim bermain basket sendirian di tengah terik matahari. Sudah setengah jam, Donna berdiri di ujung lapangan. Ia sedang mengumpulkan keberaniannya untuk bertanya pada Baim tentang alasan kenapa Baim tidak pernah membalas sms-nya, tidak pernah meneleponnya atau membalas telepon Donna. Alasan kenapa Baim tidak pernah muncul di kelas Donna seperti sebelum-sebelumnya. Ini aneh. Padahal Donna kira mereka sudah dekat, tapi kenapa akhir-akhir ini Baim menjauhi Donna.

            Donna tidak ingin melepaskan Baim begitu saja. Ia harus mengetahui alasannya…walaupun mereka memang belum ‘jadi’. Tapi Donna sangat ingin tahu alasan mengapa Baim seperti menjauhi Donna.

            Tiba-tiba Baim berhenti melemparkan bola basket ke dalam ring, ia melihat jam tangannya lalu mengambil tasnya dan mulai berjalan ke arah pintu gerbang.

            Donna yang melihat gerakan itu, berteriak, “Baim!”

            Baim menoleh. Tidak ada lagi orang di sekitar lapangan basket itu. Hanya Baim dan Donna yang memenuhi lapangan basket.

            Sekilas terlihat Baim bergerak melanjutkan langkahnya ke arah pintu gerbang, tapi Donna tetap memanggil Baim dan berlari ke arah Baim. Baim akhirnya menghentikan langkahnya.

            Donna tepat berada di depan Baim, menghela napas panjang-panjang. Ia tidak ingin percaya bahwa ternyata Baim memang menjauhinya…. Tapi baru saja terbukti. Dari gerakan Baim, Donna tahu Baiim ingin meninggalkan Donna.

            “Baim…”, kata Donna.

            “Iya?

Ada

apa?”, tanya Baim cool.

            “Ng, kenapa?”, Donna berhenti sejenak, melihat Baim sebentar, lalu melanjutkan “Kenapa kamu nggak bales sms-ku?”

            “Ng… Oh… Ng, iya ya? Maaf deh,,, pulsaku abis”

            “Telepon. Ng… telepon rumah?”, Donna ingin mematahkan alasan Baim tentang pulsa itu, mengingat masih ada telepon rumah.

            Baim yang memahami maksud Donna, berkata “Oh… Ng.. Iya ya? Hhehe… Ng…”

            Suasana yang kaku ini tidak pernah terbayang dalam benak Donna. Kenapa Baim berubah?

            “O iya.. Selamat ya…”, kata Baim.

            Donna mengangkat alisnya, “Selamat apa?”

            “Yah.. Selamat… Dah jadian

kan

?”

            “Jadian?”

            “Iya…”

            “Memang kata siapa aku dah jadian?”

            “Ha? Aku liat kok fotonya… Kamu baru jadian

kan

? Yah, selamat ya.. Maaf kalo selama ini aku ngeganggu kamu….”

            “Apa?”

            “Udah nggak usah ngeles, Don.. Aku tahu kamu nggak enak ama aku

kan

? Yah..Nggak apa. Moga-moga langgeng yah.. Sekali lagi, maaf kalo selama ini dah ngeganggu kamu.”

            “Tapi… “, sebelum Donna sempat bertanya lebih jauh, Baim telah berjalan cepat meninggalkan Donna dalam kebingungannya. Sesaat sebelum Baim meninggalkan Donna, raut wajah Baim berubah…menjadi sinis. Sebenarnya ada apa?

            Kejadian sore itu belum sempat Donna ceritakan ke Tania. Ia masih terlalu bingung dengan perubahan sikap Baim sampai-sampai Tania selalu memergoki Donna sedang melamun.

            “Woey!!! Donna!!! Kenapa kamu ngelamun lagi?

Ada

apa???? Halo!!!???”, Tania melambai-lambaikan tangan di depan mata Donna.

            Donna tersadar dari lamunannya, lalu tersenyum..malu.

            “Hm?

Ada

apa sih? Akhir-akhir ini kamu sering melamun ya?

Ada

masalah?”, tanya Tania. “Hm… Baim ya?”, Tania berusaha menebak-tebak apa yang membuat Donna sering melamun akhir-akhir ini.

            Donna menggelengkan kepalanya. “Nggak ada apa-apa kok… Hehe… Cuma nilai ulangan fisika yang kemaren aja yang ngebuat aku nge-Blank…”, elak Donna.

            Tania mengangkat alis, “Fisika? Tapi nilaimu

kan

lebih bagus daripada aku…. Kamu 65. Nah, aku 55. Jadi, gak usah sedih!!

Kan

ada temennya..”, hibur Tania sambil menunjuk dirinya sendiri.

            Donna tersenyum. Ia merasa tidak enak untuk menceritakan masalah Baim, mengingat Tanialah yang berjasa mendekatkan Baim dan Donna. Kalau Tania tahu Baim berubah sikap, pasti Tania akan berbuat lebih jauh lagi untuk mendekatkan mereka. Well, Donna tidak ingin itu terjadi. Kesannya kok merepotkan Tania…

            “Nah, daripada nge-Blank gara-gara Fisika, ikutan nonton pameran otomotif yuk! Di univ.A!”, ajak Tania.

            “Ha? Univ. A? Acaranya si Firman ya?”, tanya Donna.

            Tania nyengir. “Iya…. Hehehehe…. Ayo, ikut!”

            Univ.A… Berarti ada Gilang? Yeah, Gilang. Baim pergi, Gilang datang. That’s true. Inbox mesej handpone Donna yang sebelumnya penuh dengan nama Baim, sekarang penuh dengan nama Gilang. Donna yang masih bertanya-tanya mengapa Baim menjauhinya, merasa sangat labil. Gilang datang di saat yang tepat. Gilang seperti sebuah pelarian yang tepat dari kelabilan Donna. Donna membutuhkan seseorang untuk bersandar. Sosok Gilang tergambar sebagai sosok yang dewasa. Ini hal baru untuk Donna and Donna starts to enjoy it. Tapi ini masalah perasaan… Dan perasaan Donna masih jatuh pada Baim.

“Pameran otomotif seperti apa? Duh… Males ah.... Ngapain juga? Gak tertarik ah….”, kata Donna sambil menopangkan dagunya.

            “Yah….. Donna! Ikut aja yuk… Di

sana

ada Gilang juga loh… Mereka

kan

event organizernya….”

            Yeah, Gilang… Donna berpikir sebentar. Bertemu dengan Gilang… Kenapa enggak?

            “Udah, gak usah terlalu lama mikirnya! Datang aja yuk… “

            “Emank kapan pamerannya?”

            “Jumat sampai Minggu ini. Kita ke pamerannya hari sabtu aja, abis pulang sekolah. Gimana?”

            Donna berpikir lagi.

            “Diam berarti iya. Okey?”, Tania tersenyum lebar.

            Donna mengangkat bahunya. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Meskipun tawaran Tania cukup membuat Donna tertarik tapi pikirannya terlalu penuh dengan perubahan sikap Baim, Baim, dan Baim.                

                                    

                                                                                                ….To be ContinueD….

            

resah...

Pukul 00.30. Donna sampai ke depan rumahnya. Ia keluar dari mobil Firman. Lalu, Tania berkata, “Hei, Don… Itu tuh papa kamu?”. Donna melihat arah yang ditunjuk Tania. Yah, benar. Itu ayahnya. Beliau baru saja pulang dari kantor, seperti biasa tengah malam begini baru ada di rumah dan berangkat subuh-subuh ke kantor.

            “Hm? Iya, itu papaku. Kalo gitu, makasih ya Tan dah nganterin…”, pamit Donna.

            “Justru aku yang terima kasih karena kamu dah mau nemenin aku. Ternyata kamu bisa gokil juga ya! Hehehe..”, elak Tania.

            Donna tersenyum kecil lalu melambaikan tangannya dan berjalan menuju pagar rumahnya. Ia melihat ayahnya yang akan mengunci kunci pagar itu menghentikan aktivitasnya. Well, Donna tidak perlu membunyikan bel dan membuat gaduh seisi rumah karena ayahnya selalu membawa kunci duplikat pagar setiap hari. Donna tetap berjalan pelan mendekati pagar, diikuti pandangan mata ayahnya.

“Donna? Kamu ngapain?”, ayah Donna membuka percakapan.

“Hehehe…

Iya

,

Pa

… Donna baru pulang”

Ayah Donna melihat jam tangannya.

“Jam setengah satu?”

“Iya, tadi temen Donna ada yang ulang tahun… Nah, papa sendiri?

Kan

juga baru pulang… Jadi kita sama ya Pa?”, elak Donna sambil tersenyum terpaksa.

Ayah Donna menghela napas. “Jangan sering-sering ya Donna… Hati-hati… Jangan terlalu percaya sama orang”.

Donna merasa tersinggung. Apa maksudnya? Ia merasa ayahnya tidak berhak melarangnya. “Apa maksud Papa? Jadi Donna harus hati-hati sama temen Donna yang lebih perhatian daripada papa?? Harusnya Donna yang harus hati-hati sama papa! Papa yang seperti orang lain…”

Donna diam dan menunggu reaksi dari papanya. Ia tahu ia sudah bicara terlalu banyak. Entah kenapa, emosinya tiba-tiba melunjak.

Ayah Donna tersenyum, senyum sedih. “Semua tidak seperti yang terlihat… Jangan pernah melihat sesuatu hanya dari luarnya saja. Kamu harus belajar untuk melihat sesuatu dari sudut pandang yang lain.”

“Apa sih Papa? Sok nasihatin Donna. Padahal papa sendiri nggak pernah tahu apa yang Donna lakuin! Nggak pernah peduli ama perasaan Donna.. Asal tahu aja ya

Pa.

. Sebenernya Donna ngerasa asing dengan papa padahal papa

kan

orang tua Donna sendiri. Tapi Donna ngerasa papa bukan papa Donna.”

Semua uneg-uneg Donna keluar juga…. Tapi reaksi dari ayahnya di luar dugaan Donna.

Ayahnya lagi-lagi hanya tersenyum dengan mata sayu. “Apa Donna merasa kalau papa bukan ayah kandung Donna? Benarkah? Kalau memang itu benar, apa yang akan Donna lakukan?”

Donna membelalakkan matanya. Ia sama sekali tidak percaya bila ayahnya sendiri akan bicara seperti itu. Apakah benar bila ayah Donna bukan ayah kandung Donna ?

“Apa? Apa itu benar , Pa? Papa bukan ayah kandung….?”, Donna masih membelalakkan matanya. Ia tidak percaya….

Lalu, ayahnya terkekeh dengan mata menyipit. Baru pertama ini Donna melihat ayahnya tertawa…. Lalu ayah Donna terdiam. “Lebih baik Donna tidur sekarang. Sudah larut malam.”

Mata Donna kembali normal, sedikit menyipit. “Papa? Papa bercanda

kan

? Itu sama sekali nggak lucu, Pa…..”

Ayah Donna mengangkat bahunya seraya berkata, “Yah… Papa bercanda. Itu jawaban yang kamu mau

kan

? Sekarang tidurlah…”

Donna tidak mengerti arah pembicaraan ayahnya. “Pa, tau nggak? Donna mulai benci ama papa…”, gumam Donna yang tetap terdengar oleh ayahnya.

“Tidurlah…”, kata ayah Donna, masih dengan mata sayu. Namun, kali ini dengan nada memohon.

Donna membalikkan tubuhnya lalu berjalan memasuki kamarnya. Air matanya mengalir. Sebenarnya, ia merasa sangat takut malam itu. Pertama, karena ia baru saja mendatangi party yang membuatnya menjadi orang lain dan ia merasa aneh karena itu. Kedua, perkataan ayahnya terdengar sangat tidak masuk akal…ataukah itu masuk akal? Apakah Donna bukan anak kandung mereka? Donna tidak mau memikirkannya saat ini. Ia membenamkan wajahnya dalam-dalam hingga ia merasa sesak napas.

===========================================================

Donna membuka matanya. Ia tertidur di tengah acara flashbacknya dengan diary-nya. Donna mendengar sayup-sayup adzan maghrib berkumandang. Donna menyeka air matanya. Ia baru sadar bahwa ia baru saja menangis. Kemudian, ia beranjak dari tempat tidurnya, mematikan radio dan menuju kamar mandi untuk mengambil air wudlu.

About Tania

Donna meminum kopinya hingga tetes terakhir. Terasa pahit. Rasa pahit yang sama saat ia tahu sosok Tania yang sebenarnya. Donna memang terlalu bodoh bila menaruh kepercayaan pada Tania. Tapi segalanya terasa begitu meyakinkan…. What a stupid girl…

=============================================================

Tania memang pada awalnya membuka jalan bagi Donna untuk dekat dengan Baim, cowok kelas sebelah yang membuat hati Donna berdebar-debar. Karena Tanialah, Donna bisa deket banget ama Baim. Hampir tiap hari Baim menelepon Donna, kirim sms ke Donna, ngobrol berdua ama Donna di sekolah. Donna malah udah jalan bareng ama Baim….ama Tania juga sih. Yah… Donna masih belum berani kalo cuma jalan berdua… Takut nggak bisa handle situasi alias terlalu grogi, ntar tambah runyam! Sepertinya hanya perlu menunggu waktu saja sampai Baim  menyatakan perasaannya kepada Donna. Keyakinan Donna tentang itu mencapai 99 % dan ia sangat berharap angka itu menjadi 100%. She doesn’t want to be alone anymore. She’s so sick of her family. She thinks she has to find sumone special who can bring happiness to her. And the person is Baim. She’s really sure about that.

Beberapa hari kemudian, Tania tiba-tiba menelepon Donna tengah malam, “Halo…. Woey, Tania…. Sekarang jam brapa ney??? Jam 12, tau…..”, jawab Donna saat menerima telepon dari Tania.

“Hehe,, iye iye,, aku tau.. Hehe… Aku ada invitation ney… Mau gak?”

“Ha? Undangan paan?”

“Gini, kamu tau Firman

kan

? Temenku yang kemaren aku kenalin itu loh.. Yang anak Univ.A itu…..”

“Hm.. anak kuliahan itu… Iya , kenapa?”

“Jadi, dia besok ulang taon.. Nah, terus ngundang aku en kamu, Don… Kamu bisa dateng

kan

??”

Donna diam sejenak sampai Tania berkata, “Oey, Don… Halo. Kamu gak tidur

kan

?”

“Hm…. Emank ultahnya di mana? Jam berapa?”

“Di Hydro’s Café. Jam 8 malem”

“Haaaa? Hydro’s café? Jam 8 malem? Emank entar ngapain aja di

sana

? Kok di café gitu siy? Malem, lagi….”

“Yah… Party-party, gitu deh Don. Makan-makan… Iya, party-nya malem, tapi paling-paling cuma sampek jam 10 aja kok… Kenapa? Kamu gak dibolehin ma ortu?”

Donna berpikir sejenak. Donna tidak pernah memberitahu Tania perihal keluarganya yang aneh ini. Donna tidak ingin ada seorang pun yang tahu masalah keluarganya. Selama ini sih Donna belum pernah keluar malem-malem gitu. Tapi toh Donna yakin, meskipun dia pulang malem, keluarganya juga tidak akan mencarinya. Yang paling bikin Donna ragu adalah party-nya gak meyakinkan… Pasti cuma mereka berdua yang masih SMA. Pasti yang lainnya dah kuliah. Hydro’s café itu

kan

tempat dugem… Yang paling pasti acaranya gak mungkin cuma selesai jam 10. Bisa-bisa selesainya dini hari. Dan acaranya nggak mungkin makan-makan aja… Begitulah yang selalu Donna dengar dari orang-orang. Donna sendiri belum pernah pergi ke tempat-tempat seperti itu.

“Oey, Donna… Kok diem lagi siy….. Gimana? Mau ya????”

“Aduh… Gimana ya Tan… Kalo gak ikut, gimana?”

“Yah, Donna… Temenin aku dong… Okey? Firman juga ngarepin banget kamu bisa dateng. Okey? Okey?”

Huh… Donna yang sudah tidak bisa mengalahkan rasa kantuknya, akhirnya cuma bisa bilang, “Iya deh iya,,, besok telepon lagi deh, aku ngantuk banget niy…”

“HORE!!!! Donna bisa! Okey, okey! Besok aku jemput kamu yah!”

Donna menutup telepon dan kembali ke alam mimpinya.

            Donna tidak tahu kenapa ia menerima ajakan Tania. Tadi sore Tania tiba-tiba menjemput Donna di rumah bersama Firman dan mobilnya. Donna benar-benar lupa tentang telepon Tania tadi malam. Donna pun terpaksa berangkat dan pamit ke ibunya dengan alasan pergi ke ulang tahun temannya.

Sekarang Donna berada di tengah remang-remang dan hiruk pikuk Hydro’s café. Kepulan-kepulan asap rokok menambah ketidaknyamanan Donna di tengah hiruk pikuk tersebut. Suara musik bergema di telinganya, lampu sorot bertaburan dengan warna silih berganti menerangi para pengunjung yang sedang menikmati musik di tengah dance floor.

Donna terlalu bingung dengan situasi ini. Ia baru pertama kali merasakannya and it’s not comfortable enough.

            “Hei, Donna… Kok melamun? Kenapa? Besok ada ujian ya?”, suara Gilang menyadarkan Donna dari ketidaknyamanannya. Gilang adalah teman kuliah Firman. Well, si Firman itu sekarang lagi nge-DJ. Ternyata dia kerja sambilan jadi DJ di Hydro’s café.

Donna tersenyum kaku, “Besok

kan

hari minggu….”

“Oh iya ya… hehe”, sahut Gilang. Becandaan yang basi banget.., batin Donna.

“Loh? Tania mana?”, Donna menjulurkan kepalanya, mencari-cari Tania.

“Tuh Tania,, Lagi nge-dance tuh di tengah

sana

…”, jawab Firman sambil menunjuk.

Donna melihat ke arah yang ditunjuk Gilang. Benar, Donna melihat Tania berdansa mengikuti irama musik. Tania terlihat sangat menikmatinya. Donna melihat aura kebebasan mengelilingi Tania. Donna mengerjapkan matanya. Ia berusaha tetap sadar dan fokus di tengah suasana asing ini.

“Kamu nggak ikut ama Tania?”, tanya Gilang.

Donna menggelengkan kepalanya.

“Oh…. O iya Donna dah punya cowok?”

Menurut Donna, pertanyaan Gilang mulai menjurus tapi Donna menjawab, “Nggak punya…”

“Ah, masa’ cewek secantik Donna belum punya cowok?”

Sialan…. Mau punya cowok kek, belum punya cowok kek, emank urusan lo??

“Kenapa belum punya cowok?”, tanya Gilang lagi.

“Hm… Bentar lagi juga punya kok….”, elak Donna.

“Oh, udah ada cowok yang ditaksir ya?”

Donna menganggukkan kepalanya.

“Hai……….!!! Mau minum dong! Gue haus banget ney!!!”, tiba-tiba Tania datang ke meja di mana Donna dan Gilang duduk, lalu meraih gelas yang ada di depannya.

“Eh, Tania… Itu gelasnya siapa?”, tanya Donna.

“Ah, bodo amat…”, Tania terus melepaskan dahaganya.

“Nah…. Kalian berdua ngapain niy…. Ihi…. Eh, Gilang! Lu jangan deket-deket ama si Donna ya… Dia dah punya gebetan loh….”, celetuk Tania.

Donna mendelik.

“Oh ya? Anak mana tuh?”, tanya Gilang.

“Anak kelas sebelah… Ya

kan

Donna???”

Donna merasa wajahnya memerah. Tania sudah seperti orang mabuk… Apa dia habis minum minuman beralkohol?

“Hey, Tania…! Udah nggak usah bilang-bilang gitu dong!”, Donna protes.

“Hahahahhahaaaaa…. Mukamu merah tuh!!!”.

Okey, Tania mulai gila.

“Oh ya? Hm? Kalo dia tau kita beginian gimana?”, tanya Gilang sambil merangkul Donna.

Donna kaget bukan kepayang lalu menyingkirkan tangan Gilang. “Eh, jangan dong.. Lagian ngapain sih?”, sahut Donna, sangat merasa tidak nyaman.

“Loh, nggak papa

kan

? Dia juga nggak ngeliat

kan

?”, elak Gilang.

Tania menghenyakkan tubuhnya di sebelah Donna lalu berbisik, “Eh iya loh Donna… Coba aja tuh si Gilang.. Siapa tau cocok? Kayaknya dia lebih hot daripada si Baim deh….Hahaha”

Apa? Coba katakan lagi apa yang baru aja kamu bilang, Tan? Donna melirik ke Gilang. Yah… Jelas aja si Gilang lebih hot… He seems mature.

Donna baru saja akan mengatakan komentarnya tentang Gilang pada Tania, namun ia mengurungkan niatnya. Ia melihat Tania mengambil puntung rokok dari tasnya dan menyalakannya dengan korek api, lalu menghisap rokok tersebut. Tania terlihat sangat menikmatinya.

“Hah, Tania? Kamu ngerokok?”, celetuk Donna tidak percaya.

“Hm… Sekali-sekali aja nggak papalah…. Kamu mau coba?”, tawar Tania, santai.

Donna menggelengkan kepalanya. Sekali-sekali aja? Tapi Donna melihat dengan tatapan tak percaya. Tania pasti sudah sering merokok… Tania sama sekali tidak canggung merokok, bahkan gayanya pun sudah seperti perokok kelas berat.

Tania tersenyum melihat wajah tidak percaya Donna. “Eh, tapi jangan bilang siapa-siapa ya kalo aku ngerokok. Di antara temen-temen sekolah, cuma kamu yang tau..”, kata Tania.

Donna menggelengkan kepalanya lagi. Ia tidak habis pikir ternyata Tania sudah sangat ‘bebas’. Ia melihat wajah Tania dengan seksama. Tidak ada beban sama sekali, Tania terus mengepulkan asap rokok dari bibirnya yang mungil. Dalam lubuk hati Donna, ia berpikir keras. Seingat Donna, Tania selalu dimanja oleh keluarganya dan ternyata ini hasilnya. Apakah ini tidak keterlaluan? Apakah Tania merasa kekurangan kasih sayang lalu berbuat semua ini? Seharusnya aku yang dari keluarga yang kurang kasih sayang inilah yang menjadi seperti Tania. Seharusnya aku yang kesepian inilah yang memiliki teman cowok yang banyak seperti Tania. Seharusnya akulah yang berlagak ingin merasakan kebebasan seperti Tania. Apa yang membuat Tania berbuat seperti ini?

“C’mon! Let’s go crazy!!!!”, teriak Firman dari microphone.

Tiba-tiba Gilang menarik tangan Donna, “Let’s dance!”. Donna mengikuti irama musik. Di depannya, Gilang juga menggerakkan tubuhnya mengikuti irama musik. Ia sedekat ini dengan Gilang! It’s too close… Tapi Donna merasa menikmatinya. Sekali-sekali aja gak papa

kan

? Kata-kata Tania terngiang-ngiang dalam kepala Donna hingga Donna menghabiskan malam itu di Hydro’s café.

...to be continued....

-Danisha-

Fake Brand neW Day

            Donna membuka lagi lembaran buku hariannya. Lagi-lagi ia berhenti pada suatu halaman dan berhenti untuk membacanya.

Dear Diary,                                                                                         9 Agustus 2002

            Aku udah nggak sekelas lagi ama Amanda. Soalnya

kan

kelasnya dirolling. Di kelas 3J ini, aku sekelas ama temen-temen yang nggak menyenangkan. Mereka semua membentuk kelompok sendiri-sendiri. Tapi ada satu kelompok yang selalu mendekatiku. Via, Tania, dan Keke. Aku nggak tau mereka tulus ato enggak, temenan ama aku. Tapi sepertinya mereka gak memanfaatkan aku. Mereka sangat ramah kepadaku. Mereka juga memiliki orang tua yang mampu. Terutama Tania. Bahkan dia sepertinya sangat dimanja ama ortunya. Apapun yang Tania minta, sepertinya dibelikan. Dia juga sudah pake make up kalo pergi ke mall. Kadang-kadang dia ngajarin aku gimana cara make up. Baju-bajunya juga seperti orang dewasa. Aku nggak nyaman pake baju kayak gitu. Tapi dia baik sekali. Dia salah satunya teman yang paling perhatian ama aku.

            Duh… Ngomong-ngomong nih diary,,, aku sendirian banget hari ini. Mama lagi pergi arisan ama temen-temennya. Benernya

kan

dah biasa ya suasana kayak gini. Papa pergi, mas Dion pergi, Dio di kamar. Cuma ada mbok Yem yang lagi tidur siang. Tapi kali ini aku bener-bener sendirian…………………. O iya, mulai kapan ya? Mama ama papa dah gak bertengkar lagi…dah nggak ada suara-suara marah lagi dari kamar mama dan papa… Nggak tau lagi kalo lagi diem-dieman. Toh, papa dan mama juga nggak pernah keliatan berdua……….

Dear Diary,                                                                                    24 Juni 2003

            Akhirnya aku masuk SMA favorit! Alhamdulillah… Aku seneng banget!!!!!!! Aku bilang ke semua orang, teriak ke semua orang! Yah… tapi tau sendirilah…. Respon yang kudapat gak sesuai dengan harapanku. Mama tersenyum senang (walopun aku tau itu senyum palsu), papa hanya lewat begitu saja, mas Dion ngelayap entah ke mana, dan Dio….hanya mengangkat jempol padaku lalu membaca buku-bukunya lagi. Huff… Apakah sebegitu biasanya bila aku masuk SMA favorit? Yah… Aku nggak ngarepin apa-apa… Aku Cuma ngarepin ada orang yang bilang, “Wih! Hebat banget Don! Bagus! Pinter banget deh!”. Well, ternyata guru les privatku alias Bu Ratri yang bilang begitu. Haha…Thanks Ma’am…