Betrayed
Sudah tiga puluh menit, dahan-dahan pohon di depan rumah Donna melambai-lambai. Bila hanya melambai sebanyak 20 derajat, Donna mungkin tidak perlu merasa was-was dengan cuaca hari ini. Tapi sore ini, angin melambaikan dahan pohon tersebut sebesar 45 derajat. Suara bising angin begitu keras menerpa kaca jendela kamar Donna. Langit begitu gelap. Dapat dipastikan, hujan angin akan turun dengan deras sebentar lagi.
Donna mengalihkan pandangannya dari jendela, ia menekan tombol ON pada radio yang terduduk anggun di meja belajar Donna. Terdengar suara penyiar yang berceloteh tentang angin kencang yang masih menerpa
Donna memang merasa was-was terhadap cuaca yang tidak menentu ini. Namun, peristiwa yang terjadi kemarin masih melekat erat dalam benak Donna, mengalahkan perasaan was-was terhadap angin kencang ini. Betapa besar luka yang tertoreh akibat perkataan dan perlakuan Iwan.
Pandangan Donna beralih ke kalender yang tergantung di lemari bajunya. Tiba-tiba pikirannya terfokus pada tanggal-tanggal yang dilingkari dengan spidol merah. Ya, Donna ingat, lingkaran-lingkaran merah itu Donna buat untuk menandai bahwa ujian akhir semester akan didakan pada tanggal-tanggal tersebut. Dua minggu lagi, ia akan menghadapi ujian akhir semester. Tidak seperti biasanya, kali ini Donna merasa tidak semangat untuk sekedar membaca-baca diktat kuliahnya. Pikirannya masih penuh dengan kejadian yang menimpanya tempo hari. Still about Iwan.
Melupakannya, itu yang Donna mau tapi tidak bisa. Donna selalu saja ingat perkataan Iwan kemarin. Kekesalan Donna pada Iwan terus membumbung dan sulit mereda. Donna bahkan tidak tahu bagaimana cara meredakannya.
Ringtone ponsel Donna berbunyi. Dari Rita. Donna dapat menebak alasan Rita menelepon. Pasti Rita menunda ajakan hang out-nya untuk malam ini. Benar. Setelah menerima telepon Rita, Donna merebahkan dirinya di kasur empuknya, lalu menyelimuti dirinya dengan bed cover bermotif polkadot. Seharian ini, Donna menghabiskan waktunya di salon. Spa, potong rambut, hair mask, manicure, pedicure de el el de el el. Baru pukul 16.00, ia pulang ke rumah dan sekarang ia menikmati kasur empuknya. Tapi itu tidak bertahan lama, perasaannya masih tidak menentu. Donna mengangkat tubuhnya dari tempat tidur dan berdiri di lantai kamarnya. Ia melihat diktat-diktat perkuliahan yang tertata rapi di meja belajarnya. Ia berpikir untuk membaca salah satu diktat tersebut, tapi sejurus kemudian Donna mengurungkan niatnya. Percuma, bahan kuliah itu tidak akan bisa kupahami bila aku tidak bisa konsentrasi seperti ini. Pandangan Donna terhenti pada laci meja belajarnya. Donna mendekati meja belajar dan membuka laci tersebut. Tergeletak beberapa buku tulis kecil yang berwarna-warni. Ia mengambilnya lalu duduk di kursi yang berada di dekat meja belaar.
Tiga buku tulis tebal. Satu buku bersampul merah muda, sampul buku yang lain berwarna kuning, dan yang terakhir berwarna biru langit. Buku-buku tersebut adalah diary yang selalu menemani hidup Donna. Ia membuka buku tulis yang bersampul biru langit. Ini adalah diary saat Donna berada di sekolah menengah pertama. Donna membuka-buka halamannya. Satu demi satu, perlahan-lahan ia membukanya. Tulisan-tulisan Donna menghiasi lembaran diary tersebut. Saat menemukan tulisan yang menarik hatinya, ia berhenti untuk membacanya.
Dear Diary, Senin, 7 November 2001
Huh… Aku nggak tahu harus gimana lagi menahan semua ini. Aku suka banget ama Anto, tapi aku juga nggak mau nyakitin Amanda. Setiap Amanda jalan ama Anto, aku bingung harus berbuat apa. Sampai kapan aku harus menyembunyikan rasa cemburuku? Aku shock saat Amanda berkata bahwa ia telah jadian dengan Anto. Kenapa semua begitu tiba-tiba? Kenapa Amanda nggak pernah cerita juga suka Anto? Katanya ia malu. Malu karena aku? Tapi memang itu juga salahku, nggak pernah bilang ke Amanda bahwa aku juga suka dengan Anto. Yah aku baru saja mau bilang Amanda….Tapi ternyata ia telah mendahuluiku… Bukankah kita adalah sahabat, Amanda?
Dear Diary, Selasa, 17 November 2001
Amanda makin ngejauhin aku. Setelah dua tahun bersahabat, ternyata ini balasannya. Setiap aku akan ke rumahnya atau mengajaknya jalan-jalan, ia selalu menolak ajakanku karena Anto. Yah, semua karena Anto. Terdapat jurang pemisah besar di antara Amanda dan aku dan itu adalah Anto.
Dear Diary, Senin, 1 Desember 2001
Amanda ngeselin… Dia udah lupa ama aku. Nggak pernah sekalipun aku ama Amanda ngumpul bareng. Curhat-curhatan sama sekali nggak pernah. Gara-gara Anto kan?
Dear Diary, Sabtu, 6 Desember 2001
Aku sama sekali nggak percaya…. Amanda memutuskan hubungan persahabatan denganku…! Aku nggak nyangka respon Amanda begini. Jujur aja, aku udah nggak tahan dengan Amanda yang makin lama makin menjauh. Aku butuh suatu alasan kenapa persahabatan kami yang dulunya dekettt banget, jadi merenggang kayak gini. Dan aku bener-bener nggak nyangka jawaban Amanda, “Ya udah, memang kita gak usah temenan lagi! Sejak dulu, aku memang terpaksa jadi sahabatmu, Donna! Itu karena kamu kaya sedangkan aku miskin! Aku selalu kesel banget waktu kamu pake handphonemu. Sok bawa handphone ke manapun kamu pergi, aku bahkan nggak bisa membeli handphone itu. Baju-bajumu juga bagus-bagus dan bermerk, sedangkan aku? Cuma punya baju kumal! Aku juga sebel banget waktu kamu dengan enaknya ke sekolah naik mobil, kamu bisa ngedapetin semuanya. Sedangkan aku? Miskin dan nggak berdaya. Aku emank maksa.. kita sebenernya nggak cocok. Aku temenan ama kamu karena aku nggak mau terlihat miskin. Paling enggak, aku bisa ngerasain sedikit dari kekayaanmu. Sebenernya aku nggak tahan ama kamu yang terlalu banyak mengeluh hal-hal yang nggak penting! Dan selalu ngomongin tentang cowok-cowok yang ngejar-ngejar kamu! Aku capek ngedengerinnya, Donna!!! Itu cuma nambah jengkel! Tapi toh sekarang aku dah punya Anto yang akan mengantarjemputku, ngebeliin aku handphone, ngebeliin apa saja yang aku mau… Anto kan anak orang kaya!”
Diary… Jahat banget kan? Amanda ternyata jahat banget… Selama dua tahun ini, dia sahabatan ama aku hanya karena…. Diary, aku salah apa sih?
To be continued…
Suara petir membuat Donna menutup lubang telinganya dengan jari telunjuk. Hujan turun dengan deras. Air hujan membahasi kaca jendela kamar Donna.
kota ini. Well, memang angin yang mengiringi hujan akhir-akhir ini sangat keras, bahkan bisa dibilang liar. BMG pun memperingati penduduk untuk waspada akan terjadinya badai yang besar.

Bila hanya melambai sebanyak 20 derajat, Donna mungkin tidak perlu merasa was-was
Orang sains akan menyebut 20 derajat sebagai angka pada pada kisaran atau ambang batas normal sedang 45 derajat (termasuk) nilai kritis.
Dapat dipastikan, hujan angin akan turun
Ushul Fiqh (kitab al Luma’) membagi tiga praduga : syak, dhan, dan yaqin masing-masing bila peluang kebenaran dugaannya kurang, tepat, dan melebihi 50%. Sains memiliki konsep ketakpastian dan memang tidak pernah ada fakta yang 100% tepat sama dengan apa yang diungkapkan sains. Oleh karena itu kata dipastikan lebih tepat diganti DIYAKINI.
radio terduduk anggun di meja belajar Donna
Ini kreatif, ada benda dapat (jatuh) terduduk. Radio jelas bisa rebah, bisa berdiri gak ya?
Betapa besar luka yang tertoreh akibat perkataan dan perlakuan Iwan.
Ajining rogo soko busono, AJINING DIRI SOKO LATHI. Mulutmu harimaumu.PENA LEBIH TAJAM DARI BELATI, dsb, dst.
kali ini Donna merasa tidak semangat untuk sekedar membaca-baca diktat kuliahnya. Pikirannya masih penuh dengan kejadian yang menimpanya tempo hari. Still about Iwan.
Masalah Donna dengan Iwan bersifat negatif terhadap kuliah tetapi positif terhadap kedewasaan Donna. Akan lebih baik bila Donna hanya melibatkan hatinya untuk masalah-masalah yang sooaaa …. ngat penting saja dan tidak dapat ditunda. Ada masalah yang bisa cair atau setidaknya berkurang tingkat keruwetannya dengan berlalunya waktu sebagaimana panas yang mereda beberapa saat kemudian. Contohnya, walaupun tidak pernah dinyatakan selesai sehingga status perang masih berlaku, setelah disepakatinya gencatan senjata, konflik Korea Utara – Korea Selatan tidak lagi bereskalasi bahkan cenderung mereda menuju reunifikasi. Menurutku, masalah Donna dengan Iwan bisa diringankan dengan diam-diaman dan dilupakan sementara waktu. Pilihlah momentum hari raya, tahun baru, dsb untuk berdamai. Mengingat-ingat ajaran ini susah, apalagi menjalankannya!
Kekesalan Donna pada Iwan terus membumbung dan sulit mereda.
Untuk apa membebani hati sedemikian rupa? Benci, marah, dendam, atau cinta berlebihan kecuali yang berdasarkan nilai-nilai tuhan adalah aktivitas-aktivitas yang menyengsarakan. Bukankah akan lebih baik bila Donna mengisi hatinya dengan perasaan-perasaan indah seperti bela sungkawa, empati, sayang, dan berusaha menolong mereka yang lemah (miskin, bodoh, dsb)? Mengingat-ingat ajaran ini susah, apalagi menjalankannya!
Donna bahkan tidak tahu bagaimana cara meredakannya.
Jangan lupakan Tuhan! Menangislah kepadaNya. Setelah berusaha, minta tolonglah kepada Allah dan tawakkallah kepadaNya. Bukankah Tuhan telah berjanji untuk mengabulkan doa, mendamaikan hati hamba yang berdzikir kepadaNya, dan menolong mereka yang beriman kepadaNya? Mengingat-ingat ajaran ini susah, apalagi menjalankannya!
hair mask, manicure, pedicure
aku seakan berada di temaram malam ketika membaca bagian ini aku …
perasaannya masih tidak menentu
Perang mengalahkan diri sendiri memang lebih sulit daripada mengalahkan yang lain. Mungkin karena itulah N. Muhammad SAW menyebutnya lebih berat dari perang badar antara 300-an kaum muslimin dengan 1000-an kaum kafir makkah.
Percuma, bahan kuliah itu tidak akan bisa kupahami bila aku tidak bisa konsentrasi
Jika ia menjadikan sesuatu/seseorang yang lain, tidak terkecuali keluarga hanya sebagai fasilitas, alat, dan cara untuk menuju Tuhan, insya Allah semua akan ringan. Hidup akan tentram dan bahagia penuh keberhasilan dunia akhirat. Mengingat-ingat ajaran ini susah, apalagi menjalankannya! Mengingat-ingat ajaran ini susah, apalagi menjalankannya!
yang terakhir berwarna biru langit
biru langit hijau daun, atau biru daun hijau langit? Yang kedua orang Madura, hahaha …
Buku-buku tersebut adalah diary yang selalu menemani hidup Donna.
Memang buku diary bisa apa? Paling hanya membuat Donna lega setelah mencurahkan kesuraman dalam tulisan. Quran kurang lebih menyindir kita yang kadang memuja sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat maupun mudharat?
Setiap Amanda jalan ama Anto, aku bingung harus berbuat apa.
Bibel menyatakan bahwa ada di antara manusia yang punya benih, tetapi orang lain yang menanam. Ada yang menanam, tetapi orang lain yang memelihara (mengairi dan memupuknya). Ada yang memelihara, tetapi orang lain yang memanen. Contohnya jika aku mencintaimu, maka aku akan berusaha menyesuaikan diri denganmu dan menyesuaikanmu denganku. Untuk itu aku mengajarimu kebenaran, kebaikan, keindahan, dsb untuk mengarungi hidup menuju Tuhan. Namun begitu, belum tentu kamu menerimanya. Sungguhpun kamu menerima cintaku, belum tentu kita berjodoh. Mungkin saja kita menikah dengan orang lain yang tidak kita cintai. Jika aku tidak tulus dalam memperlakukanmu secara baik selama PDKT, maka aku akan sakit hati bila kamu tidak dapat kumiliki. Maka benarlah sabda N Muhammad SAW, “Setiap kalian celaka, kecuali orang-orang yang berilmu. Dan setiap orang-orang yang berilmu celaka, kecuali orang-orang yang mengamalkan (ilmunya). Dan setiap orang-orang yang mengamalkan ilmunya celaka, kecuali orang-orang yang ikhlash (tulus karena Allah)”. Bila kita melakukan segala sesuatu karena Tuhan, kita pasti menuai setidaknya di akhirat nanti karena tuhan Benar-benar Kaya, Sungguh Jujur, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Mengingat-ingat ajaran ini susah, apalagi menjalankannya!
Sampai kapan aku harus menyembunyikan rasa cemburuku?
Cemburu tampaknya timbul oleh rasa memiliki yang tidak tepat. Tidak semua yang kita suka berarti pasti atau harus menjadi milik kita sehingga kita tidak terima bila orang lain memilikinya. Jangan lupa bahwa setiap orang terlahir dalam keadaan telanjang bulat, lapar, dan haus tidak mempunyai apapun jua. Kita semua akan mati hanya dengan membawa kain kafan. Quran kurang lebih mengingatkan, “Pada hari (akhir) itu, orang akan lari dari saudara, ibunya, bapaknya, teman perempuannya (istri atau suaminya), dan anak cucunya. Setiap orang dari mereka mempunyai keadaan (persoalan) yang membuat mereka merasa cukup (kalang kabut)” Mengingat-ingat ajaran ini susah, apalagi menjalankannya!
Tapi ternyata ia telah mendahuluiku…
Secara leksikal dunya berarti lebih/paling rendah. Mungkin karena kehidupan dunia dipenuhi hal-hal menyengsarakan seperti inilah sehingga orang menyebut kehidupan dunia sebagai kehidupan yang penuh dengan penderitaan bahkan pengkhianatan. Jika memiliki keinginan, beberapa orang kemudian berusaha mendapatkannya bahkan dengan segala cara. Dia tidak sadar telah diperbudak oleh keinginannya sendiri. Jika tidak terpenuhi, ia merasa sedih bahkan menderita. Lagi-lagi ia tidak sadar telah disengsarakan oleh keinginannya sendiri. Dalam hal inilah kemampuan untuk bersikap wajar dalam berkeinginan, optimisme dalam memandang masa depan, rajin dalam belajar dan bekerja seraya berdoa, tawakkal dalam menunggu hasil upaya, qanaah (nrimo) terhadap apa yang telah diperoleh, sabar dalam segala hal dari awal hingga akhir, dsb sangat penting untuk dimiliki dan menentukan keberhasilan dan kebahagiaan orang dalam mengarungi kehidupan. Konsep-konsep dalam disiplin ilmu tashawwuf tersebut telah disederhanakan untuk memudahkan pemahaman menjadi apa yang sekarang disebut ESQ. Mengingat-ingat ajaran tersebut susah, apalagi menjalankannya!
Terdapat jurang pemisah besar di antara Amanda dan aku dan itu adalah Anto.
Setelah Amanda punya anak cucu, jurangnya makin dalam dan bertambah lebar. Bahkan setelah kita tua renta dan anak cucu kita telah sibuk dengan urusannya masing-masing kelak nanti, kita akan kesepian. Tetapi itu tidak akan pernah terjadi bila kita menjadikan Tuhan sebagai nafas, darah, jiwa dan raga kita. Itu tidak akan pernah terjadi bila kita menjadi Tuhan sebagai Bapak kita, Ibu kita, Saudara kita, Pasangan kita, anak cucu kita, sedangkan selain tuhan hanya fasilitas, alat, dan cara untuk menuju Tuhan. Mengingat-ingat ajaran ini susah, apalagi menjalankannya!
Dulunya dekettt banget, jadi merenggang kayak gini.
Saat kita terlahir, kita tidak punya apa-apa. Bahkan kita baru merasa punya bapak, ibu, dan keluarga setelah akil baligh. Sebelum itu, semuanya berlangsung atas Kasih Sayang Tuhan dengan memberik kita bapak dan ibu yang menyayangi kita. Mengapa menggugat setelah kehilangan sesuatu yang tidak pernah kita miliki sebelumnya seperti sahabat dsb padahal kita tahu akan mati dengan hanya membawa kain kafan? Mengingat-ingat ajaran ini susah, apalagi menjalankannya!
Ya udah, memang kita gak usah temenan lagi!
Kadangkala orang mengucapkan kata-kata semacam ini karena, saat itu, ia memiliki keterbatas sumber daya untuk bersikap lebih baik. Misalnya sedang BT, terburu-buru, dsb.
Diary, aku salah apa sih?
Orang bijak berkata, “The future belongs to those who understand it.” yang mungkin dapat ditafsirkan sebagai : Hidup bahagia adalah milik mereka yang mengerti apa, siapa, bagaimana, mengapa, kapan, di mana itu kehidupan, kebahagiaan, dan hidup bahagia. Tuhan Sungguh-sungguh Sayang pada hamba-hambaNya sehingga diutuslah rasul untuk menyampaikan ajaran agar kita berhasil dalam hidup di dunia dan akhirat.
menutup lubang telinganya dengan jari telunjuk
menurut teori akustika, daya hantar udara terhadap gelombang mekanik seperti bunyi lebih baik daripada telunjuk sehingga bunyi akan terdengar lemah bila kita menutup telinga. Tetapi bunyi akan tetap terdengar sungguhpun kita berada di dalam beton tertutup karena betonpun ikut menghantar gelombang longitudinal.
Posted by: Augustus | February 28, 2008 06:01 AM