flashback
Ingatan Donna tentang persahabatannya dengan Amanda sangat kuat melekat di benak Donna. Begitu pula dengan pengkhianatan yang dilakukan Amanda. Saat itu, Donna kecil hanya bisa menangis tersedu-sedu setelah Amanda pergi meninggalkan Donna dengan wajah pucatnya. Donna pulang ke rumahnya dengan lesu dan mata sembab. Ia duduk termenung di sofa ruang keluarga sambil terus menangis.
Lalu, ibu Donna yang saat itu mendengar isakan Donna dari arah ruang makan mendekati Donna. “Kenapa kamu menangis, Donna?”, tanya Dewi, ibu Donna dengan anda yang sangat keibuan… seperti biasa.
Donna mendongak memandang wajah ibunya lalu berkata, “Amanda, Ma…. Amanda jahat….”, dengan terbata-bata dan masih terisak.
“Kenapa Amanda?”, masih dengan nada keibuan, Dewi duduk di sebelah Donna.
“Amanda bilang.. kalo dia temenan ama Donna gara-gara Donna kaya, Ma….”, Donna menjelaskan masih dengan terisak. Namun, usapan tangan Dewi di kepala Donna membuat Donna lebih tenang. Donna mengalihkan pandangannya ke Dewi. Dewi tersenyum lembut, lalu berkata “Menangislah… Tidak apa-apa. Tapi tidak perlu terlalu larut dalam kesedihan… Amanda tidak perlu ditangisi… Buat apa menangisi persahabatan yang penuh kebohongan?”. Donna memandang ibunya bulat-bulat, mencoba mencerna apa yang dikatakan ibunya. “Tidak semua orang bisa dipercaya, Donna…. Bahkan teman terdekat kita sekalipun. Kita harus hati-hati untuk memberikan kepercayaan pada orang lain. Tapi bukan berarti tidak ada orang lagi yang bisa dipercaya. Kalau kamu sudah memberikan kepercayaan pada orang lain, tidak ada jalan lain kecuali siap untuk dikhianati.”, jelas Dewi panjang lebar. Donna yang masih kelas 2 SMP itu tidak begitu mengerti apa maksud ibunya. Yang bisa ia tangkap adalah bahwa perlakuan Amanda itu biasa terjadi dan ia harus segera melupakannya. Perkataan Dewi selanjutnya membuat Donna sedikit lebih mengerti, “Lebih baik cari teman yang lain aja, Don…Teman tuh nggak cuma Amanda, pasti nanti Donna bakal dapet temen yang lebih baik lagi… Jadi gak usah nangis lagi ya… Ayo senyum”, Dewi tersenyum lebar, menyejukkan hati Donna. Perkataan Dewi membuat Donna lebih kuat. Ia berniat melupakan Amanda dan mencari teman yang baru.
Donna membuka-buka kembali halaman buku hariannya. Tangannya berhenti membalik-balik halamannya lalu terpaku membacanya.
Dear diary, 29 April 2002
Lagi-lagi aku denger Mama menangis. Terus aku beranikan diri untuk tanya kenapa Mama menangis, tapi lalu Mama mengusap air matanya dan bilang, “Nggak papa… Cuma kelilipan”. Tapi aku tau kenapa Mama menangis… Karena Papa… Papa memang jarang ada di rumah. Berangkat ke kantor pagi-pagi sekali dan pulang ke rumah malem-malem sekali. Papa memang udah dari dulu sibuk kerja…. Kata Mama, Papa memang sibuk sekali dan itu harus dilakukan untuk memberi nafkah keluarga… Untuk bayar uang sekolah mas Dion, Donna, dan Dio.
Omong kosong semuanya… Aku tau mama bohong. Nggak mungkin kan kota
Pandangan Donna menerawang jauh. Ayah. Selama ini, ia tidak pernah merasakan memiliki seorang ayah. Donna masih ingat saat ia ditinggalkan ayahnya untuk mengambil S2 di luar negeri. Saat itu, Donna menginjak umur empat tahun. Ia ingat ayahnya melambaikan tangan padanya dan pergi entah ke mana. Tapi ia sama sekali tidak merasa kehilangan. Bahkan ibu Donna pernah berkata kepada Donna, “Iya, Don… kamu dulu tegar sekali. Waktu papa pergi selama 6 tahun itu, kamu nggak nangis sama sekali loh.. nggak nyari-nyari papa”. Donna cukup heran dengan perkataan ibunya. Bukankah anak kecil seharusnya menangis atau setidaknya mencari-cari ayahnya bila ia ditinggal pergi oleh ayahnya? Itu bukan ketegaran, itu karena ia sama sekali tidak merasa kehilangan. Ingatan tentang ayahnya hanya sebatas saat ayahnya melambaikan tangannya.
Teman-teman SD-nya selalu bertanya pada Donna, “Donna, mana papamu?” dan selalu Donna menjawab, “sekolah di luar negeri”. Itu adalah jawaban otomatis yang ditanamkan oleh ibunya dan selalu diajarkan oleh ibunya,”Donna, kalo nanti ditanya sama orang, ayah kemana, dijawab aja ‘sekolah di luar negeri’. Okey?”. Begitulah. Dan selalu jawaban itu yang keluar dari mulut Donna. Sebenernya dia juga iri saat ia melihat teman-temannya yang selalu mendapat kasih sayang dari ayahnya. Tapi toh dengan mama, semua terasa menyenangkan. Mama sangat pintar membawa Donna dalam masa kecilnya yang menyenangkan. Jadi tidak ada ayah pun, Donna tidak merasa kehilangan. Hingga ia menginjak kelas 4 SD, saat di mana ayahnya pulang, ia merasa sangat asing dengan ayahnya.
Papa memang kayak orang asing… dari dulu. Jarang senyum. Keliatan jahat. Tapi nggak pernah marah sih…. Kesannya malah nggak ada perhatian… Nggak pernah pergi bareng…Aku hampir nggak pernah ngomong ama papa. Kalo aku ulang tahun, papa Cuma ngasih selamat aja ama hadiah. Terakhir kali, papa ngadoin handphone tipe baru… Aku seneng banget loh diary… tapi sebenernya aku lebih seneng kalo papa mau lebih perhatian ke aku…. Yang paling aku inget tuh waktu kelas 6 SD dulu. Hanya sesekali dan terkesan tidak penting. Papa tanya ke aku, “Donna, berapa nilai rapormu kemarin? Bagus?”. Tumben banget papa tanya. Terus aku jawab, “bagus pa! Ranking dua loh!”. Papa tersenyum. Baru pertama kali itu, aku ngeliat senyum papa yang tulus banget….. Tapi papa cuma bilang, “Wah, bagus banget… tapi belajar lagi ya biar nanti bisa dapet ranking satu”. Tapi diary… aku sama sekali nggak dapet ranking satu…. Dan papa juga nggak pernah tanya-tanya lagi..
Yang paling aneh nih diary… Mama tuh jarrrraaaang banget keliatan berdua ama papa….. Kalo bareng, paling-paling juga kalo papa ada acara di kantornya dan mengajak mama untuk pergi. Hehehe,,, mungkin berduanya di luar ya…. Sembunyi-sembunyi gitu….
Tapi akhir-akhir ini, aku kaget banget loh diary.. soalnya papa ama mama keliatannya lagi bertengkar. Tadi malem aku denger ada suara-suara marah dari kamar mama dan papa. Tapi aku nggak tau juga…. Aku nggak berani tanya ke mama tentang bertengkar ama papa itu….
Aku pengen cari tau dari mas Dion ama Dio… Tapi kayaknya nggak mungkin… Mas Dion hampir setipe ama papa… Jarrrang banget ada di rumah. Dulu waktu mas Dion masih SMP, nakalnya minta ampun!!! Reseh banget pokoknya…. Pernah ya sepatu sekolahku disembunyiin ama mas Dion, sampek aku nangis loh diary! Kadang-kadang juga ngelempar cacing mati dari kebun ke bajuku! Di sekolah juga nakal banget! Mama selalu dipanggil ama sekolahnya mas Dion. Sekarang mas Dion dah SMA, selalu keluyuran… Mama pernah marahin mas Dion, tapi mas DIon tetep aja pergi-pergi gak tau kemana… Nilai-nilainya juga jelek-jelek… Kasihan mama. Kenapa sih mas Dion tuh nggak pernah ngertiin mama?
Kalo Dio…. Dia diem banget…Tapi pinter banget! Waktu kenaikan kelas kemaren, Dio ranking satu lagi… Taun ini, dia bakalan ujian masuk SMP.. Kayaknya sudah pasti dia bakal masuk ke SMP favorit dengan nilai cemerlang… Tapi sebenernya Dio tuh satu tipe ama papa dan mas Dion. Walaupun Dio selalu ada di rumah, tapi sama aja kayak nggak ada dirumah… Ngurung diri di kamaaaaaaaaar terus! Sebel! Emank jadi orang pinter tuh harus kayak gitu ya?
HUH!!!! Keluarga yang aneh kan?! Dan aku baru sadar……….. Betapa hampanya keluarga ini…. Apalagi mama yang biasanya selalu bahagia dan tenang, sekarang menangis…. Aku tahu selama ini mama cuma pura-pura tenang, nggak ada apa-apa, tapi sebenernya mama tuh ada masalah. Mama keliatannya selalu senyum tapi diem-diem nangis. Kenapa sih mama bilang nggak ada masalah kalo mama ada masalah? Kenapa pura-pura senyum kalo emang sedih? Apa papa yang bikin mama nangis? Aneh ah! Kenapa semua jadi begini?
Donna menghela napas panjang. Ia ingat bahwa saat itu adalah saat di mana ia baru menyadari bahwa ada yang tidak beres dengan keluarganya. Sumthing’s missing... And she’s found out....
To be continued...........

beeeuuhhhh
nusuk banget nih...
bu pimred keren banget
:P
Posted by: Kiki | March 19, 2008 11:36 AM
keren....
layak jadi cerpen di deteksi..
semoga bukan di ambil dari kehidupan nyata.
semoga menjadi pelajaran betapa beratnya menjadi orang tua.
Posted by: alan | March 20, 2008 07:45 PM
Begitu pula pengkhianatan Amanda.
Dalam dendangannya, Siti Nur Haliza menyarankan, “… derita hati jangan dikenang …” karena ajaran Sukarno agar tidak melupakan sejarah hanya untuk mengambil pelajaran dari masa lalu, bukan beromantika atau meratapinya yang hanya akan menjadikan hati kurang bersih. Masa kita jadikan hati kita sebagai Bantar Gebang.
Ia duduk termenung di sofa ruang keluarga sambil terus menangis.
Nah, tuu … klo hati dijadikan Recycle Bin ya gini jadinya.
Dewi, ibu Donna dengan anda yang sangat keibuan… seperti biasa.
I feel at home. I know my mom loves me. She is the only one …
Namun, usapan tangan Dewi di kepala Donna membuat Donna lebih tenang.
Assuredly, I am coming home mom ...
Dewi tersenyum lembut, lalu berkata “Menangislah… Tidak apa-apa.
”Karena tidak semua air mata jahat”, Gandalf (LOTR : The Return of The King)
Tapi tidak perlu terlalu larut dalam kesedihan …
Quran kurang lebih menyatakan, ”Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas”.
Buat apa menangisi persahabatan yang penuh kebohongan?
Bener tuh, buat apa mengisi hati dengan sampah?
Donna memandang ibunya bulat-bulat, mencoba mencerna apa yang dikatakan ibunya.
Ini kreatif, klo memandang lonjong-lonjong mungkin brarti mencoba apa dong? Klo memandang pipih-pipih apa juga?
dan ia harus segera melupakannya.
Yak, itu baru Donna yang jelita ...
pasti nanti Donna bakal dapet temen yang lebih baik lagi…
Amin!
Perkataan Dewi membuat Donna lebih kuat.
Sapa dulung dong ... IIIBUUU ...
Ia berniat melupakan Amanda dan mencari teman yang baru.
Yap ...
Dear diary, 29 April 2002
Tiga tahun kemudian lulus SMA, tahun 2005 masuk FKG : sapa lagi? Yakin deh … Dian must be Donat, eh … Donna!
“Nggak papa… Cuma kelilipan”.
Konsep Aurat dalam Islam mungkin antara lain dapat ditafsirkan sebagai ajaran bagi kita untuk mengatur seberapa kita membuka rahasia. Aurat kepada orang lain (non muhrim) berbeda dengan aurat kepada keluarga kita. Tidak adanya batasan aurat antara suami istri, mungkin merupakan petunjuk agar kita terbuka kepada pasangan kita. Ada yang punya tafsir lain?
Aku tau mama bohong. Nggak mungkin
Aurat orang tua dengan anak yang telah akil baligh adalah dari lutut hingga pusat (perut) untuk yang laki, dan hingga dada untuk perempuan. Ini mungkin merupakan petunjuk yang bisa ditafsirkan bahwa tidak semua hal boleh dibuka orang tua kepada anaknya. Tetapi anak kepada orang tua, hingga tingkat tertentu mungkin perlu. Bukankah orang tua kita pernah melihat dari ujung rambut hingga ujung kaki ketika kita masih balita?
Masa’ sabtu minggu juga kerja?
Berbaik sangka mungkin dengan berpikir bahwa boleh jadi beliau berpikir bahwa selagi muda kerja, kelak di masa pension tinggal menikmati hasilnya termasuk berkumpul dengan keluarga.
Itu bukan ketegaran, itu karena ia sama sekali tidak merasa kehilangan.
Betul ... setuju ... sepakat ...
Mama sangat pintar membawa Donna dalam masa kecilnya yang menyenangkan.
Andai ada gadis sehebat beliau, ... aku pasti buruan daftar jadi asisten pribadinya, sekretaris pribadinya, supir pribadinya, tukang cuci strika pribadinya, dst ...
Jadi tidak ada ayah pun, Donna tidak merasa kehilangan.
Waduh, waduh, jangan sampai dong ...
ia merasa sangat asing dengan ayahnya.
Ini pelajaran bagi bapak-bapak, atau calon bapak sepertiku, bahwa kasih sayang itu penting. Bener ....! penting deh ...
Keliatan jahat.
Tak jarang juga lho yang baik hati walau tampangnya sangarrrr ...
Dan papa juga nggak pernah tanya-tanya lagi..
Papa yang aneh ...
Yang paling aneh nih diary… Mama tuh jarrrraaaang banget keliatan berdua ama papa…..
Nah tuu, betul kan? Padahal, menurutku, nama salah satu dari 3 kitab Itihasa Purana Hinduisme, ramaYANA, mungkin dapat ditafsirkan sebagai rumahku jannahku (jannah = surga).
mungkin berduanya di luar ya…. Sembunyi-sembunyi gitu….
Iya kali, ... berprasangka baik itu lebih baik dech ...
Tapi sebenernya Dio tuh satu tipe ama papa dan mas Dion.
Air cucuran atap, jatuhnya ke pelimbpahan juga ...
Emank jadi orang pinter tuh harus kayak gitu ya?
Nggak juga kallii …
HUH!!!! Keluarga yang aneh kan?!
Coba, Donna hadiahi ibu dengan buku tentang keindahan harmoni dalam keluarga yang harus dibaca juga oleh papa dan akhirnya semua. Usahakan ada momen-momen bersama keluarga seperti sarapan pagi dan makan malam bersama, apalagi bila bisa shalat jamaah bareng ... Asik banget tuh! Ceritakan juga tentang Maximus Decimus Meridius (Film Gladiator), tentang Arya Kamandanu (Senopati Majapahit), tentang Li Mubai (Film Crouching Tiger Hidden Dragon), yang lebih memilih keluarga daripada karir, harta, ketenaran, petualangan, dsb. Ceritakan pula bahwa inti ajaran agama-agama pun adalah cinta. Dan hanya dalam keluarga kita bisa memperoleh keteduhan yang bening itu kecuali bila dibanding cinta Tuhan. Yah, kecuali kasih sayang Tuhan saja ... Quran kuran lebih berfirman, ”Pada hari (kiamat) itu, setiap orang lari dari saudara (dan saudarinya), dari ibunya, dari bapaknya, dari teman perempuannya (pasangan suami atau istrinya), dan dari anak-anak maupun cucu-cucunya. Setiap orang dari mereka pada hari (kiamat) itu mempunyai persoalan yang (sedemikian rumitnya sehingga) membuat mereka merasa cukup (dan tidak mungkin memikul beban permasalahan tambahan)”.
Kenapa pura-pura senyum kalo emang sedih?
Tahupun, Donna juga tidak bisa membantu apa-apa kan? Maka mama sekalian tidak bercerita karena tidak ingin anaknya ikutan sedih.
Posted by: Augustus | April 2, 2008 05:59 PM