Brother
Donna mengambil setangkup nasi dan satu buah telur mata sapi ke dalam piring di depannya. Ia tidak memiliki selera untuk makan. Tapi makan pagi adalah rutinitas yang tidak bisa ditinggalkan Donna (yah.. kecuali puasa). Tidak makan pagi untuk Donna sama dengan menumbuhkan bad mood seharian penuh dan itu bahaya. Kalau udah bad mood, rasanya males mau ngapain aja. That’s not good at all. So, here she is, having breakfast. Makan pagi hari ini seperti biasa,
Donna makan bersama Dio. Ayah pergi ke kantor, Dion yang kuliahnya selalu masuk siang masih tidur di kamarnya, ibu pergi ke sanggar senam (dengan jadwal rutin setiap jam 6 pagi senin sampai jumat). Jadi, hanya Donna dan Dio yang makan pagi. Donna duduk di sebelah Dio. Well, sebenarnya mereka tidak harus duduk bersebelahan setiap makan pagi.. tapi entah kenapa, sepertinya masing-masing anggota keluarga memiliki kursi favorit masing-masing untuk makan. Donna selalu duduk di kursi yang menghadap ruang keluarga, Dio duduk di sebelah kirinya. Dion duduk di kursi yang menghadap dapur, ibu Donna duduk di sebelah kiri Dion. Ayah duduk di kursi yang menghadap taman. Entah sejak kapan kursi-kursi itu dipatenkan pemiliknya. It’s automatic. Masing-masing anggota keluarga tidak akan duduk di kursi selain kursi favoritnya. Donna mendengus, memandang meja makan berbentuk persegi panjang itu. Meskipun tiap anggota keluarga memiliki kursi favorit masing-masing toh mereka tidak pernah makan bersama. Donna mengingat-ingat kembali, kapan ya terakhir kali mereka makan bersama? Namun sebelum Donna menemukan jawabannya, Dio bertanya, “Mbak Donna, ini telurnya Dio ambil ya”.
Donna melihat telur sisa yang dimaksud Dio. Telur yang dihidangkan berjumlah tiga padahal hanya Dio dan Donna yang makan pagi. “Iya ambil aja”, jawab Donna singkat, lalu memulai satu suapan makan paginya. Mungkin telur itu untuk Dion, tapi Donna tidak memikirkannya. Toh Dion bisa meminta untuk dimasakkan telur mata sapi lagi.
Donna melirik ke arah Dio. Ia memang belum pernah mencoba untuk ngobrol dengan Dio tentang keganjilan keluarga ini. Yah, sebenernya ngobrol ama Dio tentang masalah lain aja belum pernah. Dio makan dengan pelan tapi pasti. Memasukkan makanan ke dalam mulutnya dengan sangat rapih, mengunyah dengan perlahan. That’s Dio. Selalu tenang, diam, pelan. Donna bahkan tidak pernah tahu tentang Dio, kecuali ia pintar, penurut, tenang, diam, pelan. (pengulangan sifat-sifat yang telah disebutkan sebelumnya karena Donna telah kehabisan kata-kata untuk mendeskripsikan Dio) Donna memang satu atap dengan Dio, tapi ia tidak kenal dengan Dio. Donna menutup matanya dengan keras. Damn… I’ve just realized it! Padahal kan aku ama Dio hampir tiap pagi makan bareng! Yah, walaupun makan pagi bersama…toh masing-masing memiliki kesibukan. Kadang-kadang Donna makan sambil mendengarkan mp3 player. Kadang-kadang Dio makan sambil membaca buku. Kadang-kadang mereka hanya menonton televisi yang ada di ruang keluarga sambil membisu. Donna tidak pernah tahu Dio yang sebenar-benarnya. Donna makan dengan lahapnya untuk membuang pikiran-pikiran tentang keluarganya. Dalam lima menit, piring di hadapannya telah kosong tak bersisa. Lalu, Donna melihat jam dinding yang ada di ruang makan. Pukul 06.20. Kegiatan belajar mengajar di sekolah dimulai pukul 06.45. Waktu yang diperlukan untuk sampai di sekolah dengan menggunakan mobil adalah 10 menit. Jadi masih ada waktu 10 menit lagi sebelum berangkat ke sekolah.
Donna dan Dio berangkat ke sekolah dengan mobil yang dikendarai sopir. Sekolah Donna dan Dio searah. Sekolah Dio lebih jauh tapi kegiatan belajar mengajar di sekolah Dio dimulai pukul 07.00. Jadi, Donna diantar terlebih dahulu sebelum Dio. Donna meminum segelas air putih. Perutnya terasa penuh tapi semangatnya mulai memuncak, siap untuk menyambut hari ini. Donna melirik Dio lagi. Dio masih belum selesai makan. Donna menopang dagunya. Lalu ia memanggil Dio, “Dio..”.
Dio menoleh dan menjawab, “Iya, ada apa, Mbak?”.
Donna tidak tahu untuk apa ia memanggil Dio, jadi Donna mengeluarkan pertanyaan yang baru saja terlintas di benaknya, “Gimana? Dah jadi anak SMP nih… Temen-temennya gimana?”.
Yap, tahun kemarin, Dio berhasil masuk ke SMP favorit –sesuai dugaan dan tidak mengejutkan—dengan NEM tertinggi se-SD-nya. Well, itu membuat sekolahnya menjadi masuk peringkat 10 besar NEM tertinggi di Jawa Timur. Donna ingat, sekolah dasar negeri Makmur 15, tempat di mana Dion, Donna, dan Dio disekolahkan bukanlah sekolah dasar yang memiliki nama di kota Malang. Tapi sepertinya Dio akan membuka sejarah baru bagi sekolah dasar di dekat rumah Donna itu karena Dio telah membuat nama SD tersebut tersohor seantero Jawa Timur. Kau memang sangat berjasa, Dio…Pahlawan sekolah dasar negeri Makmur 15, batin Donna, sedikit berlebihan. Dio memandang Donna dengan kosong. Lalu menjawab,
“Yah temen-temen baik-baik aja..” Bukan jawaban yang diharapkan Donna tapi itu sudah biasa. Jawaban yang singkat tapi tidak jelas.
“Oh….. O iya, Dio ikut ekskul apa?”, tanya Donna. Ia sekilas melihat kalender di dinding sebelah lemari es. Sekarang udah bulan Maret. Ekskul seharusnya sudah dipilih semester lalu.
Dio menjawab, “Catur”. Donna sangat tidak terkejut dengan jawaban Dio. Tapi catur….membosankan banget seh…..
“Oh ya ya…. Suka catur ya? Nggak ada lombanya?”
“Ada.. Baru aja menang minggu lalu…”
“Ha? Menang? Dio menang lomba? Juara satu? Satu kabupaten?”, tebak Donna dan diikuti dengan anggukan kepala Dio.
“Juara satu kabupaten?”, Donna mengulang pertanyaannya.
“Iya, Mbak..”, Dio melanjutkan makannya.
“Apa..nggak diliput ama wartawan koran?”
“Diliput kok di harian KOTABARU.. Tapi kolomnya kecil.” Donna sama sekali tidak tahu tentang itu. Dio juga tidak memberitahu sedikitpun kepada anggota keluarga yang lain. Parah…parah…dan apakah orang tua mereka tahu tentang kemenangan Dio.
“Dio udah beritahu mama papa?”, tanya Donna. Dio diam sejenak lalu tersenyum sinis.
“Belum” Donna bertanya-tanya apa arti dari senyum sinisnya itu. Apakah Dio juga merasakan hal yang sama tentang keluarga ini? Apakah Dio ternyata masih memiliki perasaan setelah berabad-abad terkurung dalam kamarnya yang kecil?.
“Kenapa?”, tanya Donna.
“Bukankah mbak Donna sudah tau jawabnya?”, tatapan mata Dio terlihat sangat misterius dan penuh selidik.
“Maksudnya?”
“Apakah dengan memberitahukan kemenangan ini, papa akan cuti kerja dan mama akan berhenti berpura-pura?” Donna diam. Kata-kata Dio sangat tepat seperti panah yang mendarat pada titik di tengah-tengah Darts.
“Tidak penting apakah aku memenangkan lomba atau meraih juara toh itu semua tidak akan menghilangkan sesuatu yang membuat mama selalu berpura-pura tersenyum seolah tidak ada apa-apa atau membuat papa peduli pada keluarganya.” Donna terhenyak mendengarkan Dio lalu ia menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi. Ia mengalihkan pandangannya pada jam dinding. Pukul 06.30.
“Yah, Dio. Udah jam setengah tujuh. Kita berangkat sekarang yuk..”. Donna beranjak dari kursinya, ia mengakhiri dialog ‘pendek tapi tepat’ dengan Dio. Maksud dari pertanyaan Dio barusan membuktikan bahwa Dio juga merasakan hal yang sama dengan Donna. Mengetahui bahwa bukan hanya Donna yang merasa asing dengan keluarga ini adalah sebuah kelegaan yang luar biasa bagi Donna. Selama ini, Donna mengira bahwa hanya Donna yang terasing. Tapi rupanya memang ada yang salah dengan keluarga ini. Seperti ada sesuatu yang masih tersembunyi dan Donna harus menemukannya. Donna hampir putus asa dengan situasi ini. Keluarga yang tidak seperti keluarga.
Donna mengambil tasnya lalu menuju mobil yang terparkir di garasi. Ia melewati pigura-pigura foto yang berjejer di atas meja. Donna, Dio dan Dion saat masih kecil dalam satu frame. Donna, ibu, dan ayah dalam satu frame. Dion, Donna, dan ibu dalam satu frame. Dio dan ayah dalam satu frame. Lagi-lagi Donna baru menyadari bahwa pigura-pigura foto itu adalah suatu kamuflase. Memang foto-foto itu meperlihatkan kebersamaan tapi tidak ada foto satu keluarga dalam satu frame atau bahkan foto ibu dan ayah dalam satu frame. “Apa Donna merasa kalau papa bukan ayah kandung Donna? Benarkah? Kalau memang itu benar, apa yang akan Donna lakukan?”, kata-kata ayah yang diucapkan beberapa hari yang lalu tiba-tiba muncul dalam benak Donna. Pikiran Donna terlalu dipenuhi sosok Baim hingga kata-kata ayah yang sangat ganjil itu teringat kembali. Namun, wajah Donna mirip dengan ayahnya. Perasaan Donna sedikit plong. Itu benar. Garis-garis wajahku sangat mirip dengan ayah. Hanya Donna yang mirip dengan ayahnya, sedangkan Dion dan Dio mirip ibunya. Donna berusaha meyakinkan dirinya bahwa ayahnya tidak serius saat mengeluarkan pertanyaan tentang ayah kandung atau bukan tersebut. Donna hanya buang waktu bila menanggapi lelucon ayahnya.
Dio menyusul Donna masuk ke dalam mobil. “Cepet ya, Pak… Udah mau telat…”, kata Donna yang disusul dengan jawaban pak Ridwan, sopir yang telah bekerja sejak Donna masih kecil itu dengan tegas, “Ya,mbak” dan mobil pun melaju. ….To Be continued…

TAPI MAKAN PAGI ADALAH RUTINITAS
Itu benar, tetapi lebih tepatnya kebutuhan, seperti mandi : mandi adalah kebutuhan, bukan kebiasaan walaupun karena itu, ketika dulu masih kuliah di ITB, aku menjadi jarang mandi (Hehehe … soalnya duingin dan aku jarang berkeringat).
TIDAK MAKAN PAGI UNTUK DONNA SAMA DENGAN MENUMBUHKAN BAD MOOD SEHARIAN
Klo lemas karena kurang tenaga memang jadi kurang semangat
THAT’S NOT GOOD AT ALL.
Aggree, aklamasi!
MASING-MASING MEMILIKI KURSI FAVORIT
mungkinkah karena kesibukan pikiran dan fantasi masing-masing tidak sama? Bahkan di tengah forum bersama seperti acara makan? Waduuh …
ENTAH SEJAK KAPAN KURSI-KURSI ITU DIPATENKAN PEMILIKNYA.
Seperti hak cipta jadinya …
MEREKA TIDAK PERNAH MAKAN BERSAMA
sayang sekali…. Kebersamaan itu mungkin bisa dipelopori sejak dini dengan umpamanya membuat kesepakatan bahwa setiap bulan, hari minggu pertama dan kedua adalah hari berkunjung keluarga ke rumah eyang dari bapak dan ibu. Sedangkan hari minggu ketiga dan keempat adalah rekreasi sekeluarga dan bercengkrama di rumah. Di sela-sela keempat acara itulah, mungkin persoalan anggota keluarga dapat diselesaikan jika tidak bisa di meja makan atau di kamar tidur.
DAMN… I’VE JUST REALIZED IT!
Yang menggunakan diksi seperti ini biasanya orang Surabaya. Gimana klo diganti : Oh, my God … I’ve just realized it! Lebih lembut dan berpahala, apalagi astaghfirullah … I’ve just realized it! Mudah teorinya, susah melaksanakannya. Sekedar mengingat ajaran ini saja, tidaklah mudah.
KADANG-KADANG DONNA MAKAN SAMBIL MENDENGARKAN MP3 PLAYER.
Musik mania? Kalau tidak salah, begawanVyasadeva-lah yang dalam Sarasamuccaya (salah satu kitab suci Hindu) berkata bahwa jika dzikir begitu merdu, maka musik (yang sedemikian menarik sekalipun) seperti suara gagak. Ajaran ini benar sekali, tetapi jujur sama sangat sulit sekali melaksanakannya. Bahkan MH Ainun Najib (bapak Sabrang Mowo Damar Panuluh vokalis Letto) mensinyalir anggukan ritmis kiai ketika mendengar musik mengalun. Aku juga melihat seorang kiai menggoyangkan tangannya ketika mendengar lagu. Namun musik seperti apakah yang disetarakan dengan bunyi gagak itu, mengingat salah satu kitab suci Hindu lainnya adalah Bhagavad Gita yang secara leksikal berarti Nyanyian Tuhan? Dan para pengikut Hindu Sekte Vaisnava memuja Krisna dan Rama antara lain dengan bernyanyi dan menari sebagaimana di Gereja, para pengikut Kristus memuja Yesus dengan bernyanyi : How great is our god, sing with me how great is our god, sing with me how great, how great is our god …
KADANG-KADANG DIO MAKAN SAMBIL MEMBACA BUKU.
Waah, hebaat, hebat … dulu aku juga begitu. Salam kenal buat Dio. Sapa tahu aku bisa bantu jika ada pelajaran atau soal yang ia tidak tahu. Sekalian kenal Donna? Entahlah, saat aku menulis ini aku gak begitu memperdulikan getaran dan fase hatiku.
DONNA MAKAN DENGAN LAHAPNYA UNTUK MEMBUANG PIKIRAN-PIKIRAN TENTANG KELUARGANYA.
Waah, emang bisa? Jarang-jarang lho yang bisa demikian. Di antara banyak teman-temanku hanya satu yang pelarian stresnya dengan makan lahap.
DALAM LIMA MENIT, PIRING DI HADAPANNYA TELAH KOSONG TAK BERSISA.
Menurut Hadits, Nabi Muhammad SAW tidak pernah merendahkan dan menyia-nyiakan makanan. Maka jangan sampai satu butir nasi pun dibiarkan tersisa di piring, di sendok, garpu, di tangan, atau jatuh.
DONNA MENOPANG DAGUNYA.
Ada orang tua yang menyatakan bahwa tidak baik menopang dagu. Bagaimana kesimpulan itu dibuat sehingga hal pernyataan itu bisa diterima sebagai kebenaran? Ada yang bisa menjelaskan?
“GIMANA? DAH JADI ANAK SMP NIH… TEMEN-TEMENNYA GIMANA?”.
Berarti, IQ dan EQ Donna cukup bagus karena meskipun tidak tahu untuk apa memanggil Dio, Donna bisa dengan cepat memilih pertanyaan yang tepat karena itu merupakan pertanyaan basa basi yang dapat mendekatkan perasaan mereka.
WELL, ITU MEMBUAT SEKOLAHNYA MENJADI MASUK PERINGKAT 10 BESAR NEM TERTINGGI DI JAWA TIMUR.
Waah, hebaat, hebat … salut buat Dio.
DIO MENJAWAB, “CATUR”.
Tampaknya, otak kiri Dio bekerja sangat baik dech …
JUARA SATU SEKABUPATEN?
Bisa menjadi pengganti Utut tuh … ini kesamaan keempat antara aku dengan Dio
“BUKANKAH MBAK DONNA SUDAH TAU JAWABNYA?”, TATAPAN MATA DIO SANGAT MISTERIUS DAN PENUH SELIDIK.
Brarti Dio juga pintar membaca situasi termasuk isi hati Donna sendiri, tetapi kok seperti tinggal di Antartika atau Arktik?
“APAKAH DENGAN MEMBERITAHUKAN KEMENANGAN INI, PAPA AKAN CUTI KERJA DAN MAMA AKAN BERHENTI BERPURA-PURA?”
Kata-kata seperti itu yang diungkapkan oleh anak SMP menggambarkan betapa Dio juga memiliki juga EQ yang sangat baik. Sayang sekali bila bibit unggul tumbuh di ladang yang tandus atau di sawah yang subur tetapi kurang dipelihara. Tetapi hal demikian sering dijumpai dalam hidup. Tidak sedikit local genius yang akhirnya gagal karena tidak cukup mendapat pengayoman, fasilitas, atau kesempatan. Salam buat Dio.
MENGETAHUI BUKAN HANYA DONNA YANG ASING DENGAN KELUARGA ADALAH KELEGAAN LUAR BIASA BAGI DONNA.
Berarti Donna punya mitra untuk mewujudkan RAMAyana : rumahku surgaku. Kata Rama bisa diidentikkan dengan kata Roma yang dalam bahasa Madura berarti rumah. Bahasa Arab dari kata Romawi adalah Rum yang merupakan bacaan kata inggris kamar/ruangan, room. Adapun kata Yana dekat dengan kata Arab dari surga, yaitu jannah. Akar kata jannah sama dengan janin yang berarti anak kecil. Mungkin karena itulah maka anak kecil itu memancarkan kemurnia, kebeningan, ketenangan, dan kesejukan surga.
Umar bin Khatthab sahabat sekaligus mertua N. Muhammad SAW berkata, “Berprilakulah seperti anak kecil di depan keluargamu”. Perkataan penerus tahta Nabi Muhammad SAW setelah Abu Bakar itu mungkin dapat ditafsirkan sebagai ajaran agar kita menjadikan rumah kita sebagai surga (rumahku surgaku : RAMAyana) dan keluarga kita menjadi para penduduk surga. Sebagai pelaksanaan pemahaman terhadap ajaran tersebut, aku bukan hanya mencium kening dan dicium oleh bapak, ibu, dan saudari-saudariku, tetapi kadangkala tidur satu kamar dengan mereka juga. Tentu saja dengan tetap menjaga batas menurut ajaran sehingga cinta yang bicara bukan nafsu angkara.
Keluarga yang tidak sempurna (broken home) seperti yang terjadi pada keluarga Donna mungkin termasuk dalam gambaran QS, “Pada hari (kiamat) itu, (semua) orang lari dari saudaranya, ibunya, bapaknya, pasangannya, dan anak cucunya. Setiap orang dari mereka memiliki persoalan yang meruwetkannya”. Ayat ini mungkin berarti bahwa keluarga Donna mengalami kiamat lokal dalam skala kecil.
LAGI-LAGI DONNA BARU MENYADARI BAHWA PIGURA-PIGURA FOTO ITU ADALAH SUATU KAMUFLASE.
Cobalah Donna dan Dio berkoalisi, mulailah dari mama.
DONNA HANYA BUANG WAKTU BILA MENANGGAPI LELUCON AYAHNYA.
Dengan kalimat ini, Dian Anisawati selaku penulis seakan memberi tahu kita bahwa kelak para pembaca akan tahu bahwa pernyataan ganjil papa Donna hanya lelucon. Walaupun sangat tidak lucu, ia kan Don?
Posted by: Augustus | May 22, 2008 01:35 AM