Preparation of breaking her heart
Hujan mulai turun dengan deras diiringi angin yang bertiup sangat kencang hingga kaca jendela kamar Donna berderak. Suara petir terdengar beberapa kali, memekakkan telinga. Donna menyalakan televisi, mengeraskan volumenya, mengubah-ubah channel, lalu berhenti pada channel musik. Ia merebahkan tubuhnya pada tempat tidurnya yang empuk. Lalu, Donna menutup matanya. Ingatannya mundur menuju peristiwa beberapa tahun lalu.
===========================================================
Saat itu, cuaca sangat cerah, terik matahari menyengat kulit Donna. Tapi Donna tidak peduli. Ia terus melihat Baim bermain basket di lapangan tengah. Donna berdiri di ujung lapangan, menggenggam erat tas selempangnya. Kegiatan belajar mengajar telah selesai satu jam yang lalu, murid-murid telah berhamburan keluar dari sekolah. Ini hari Sabtu. Setelah kegiatan belajar mengajar selesai, sekolah pasti sepi. Tidak ada yang nongkrong sampai sore seperti hari-hari lainnya. Mereka memilih untuk menikmati weekend di luar sekolah.
Donna juga baru saja akan pulang, tapi ia terhenti saat melihat Baim bermain basket sendirian di tengah terik matahari. Sudah setengah jam, Donna berdiri di ujung lapangan. Ia sedang mengumpulkan keberaniannya untuk bertanya pada Baim tentang alasan kenapa Baim tidak pernah membalas sms-nya, tidak pernah meneleponnya atau membalas telepon Donna. Alasan kenapa Baim tidak pernah muncul di kelas Donna seperti sebelum-sebelumnya. Ini aneh. Padahal Donna kira mereka sudah dekat, tapi kenapa akhir-akhir ini Baim menjauhi Donna.
Donna tidak ingin melepaskan Baim begitu saja. Ia harus mengetahui alasannya…walaupun mereka memang belum ‘jadi’. Tapi Donna sangat ingin tahu alasan mengapa Baim seperti menjauhi Donna.
Tiba-tiba Baim berhenti melemparkan bola basket ke dalam ring, ia melihat jam tangannya lalu mengambil tasnya dan mulai berjalan ke arah pintu gerbang.
Donna yang melihat gerakan itu, berteriak, “Baim!”
Baim menoleh. Tidak ada lagi orang di sekitar lapangan basket itu. Hanya Baim dan Donna yang memenuhi lapangan basket.
Sekilas terlihat Baim bergerak melanjutkan langkahnya ke arah pintu gerbang, tapi Donna tetap memanggil Baim dan berlari ke arah Baim. Baim akhirnya menghentikan langkahnya.
Donna tepat berada di depan Baim, menghela napas panjang-panjang. Ia tidak ingin percaya bahwa ternyata Baim memang menjauhinya…. Tapi baru saja terbukti. Dari gerakan Baim, Donna tahu Baiim ingin meninggalkan Donna.
“Baim…”, kata Donna.
“Iya? Ada
“Ng, kenapa?”, Donna berhenti sejenak, melihat Baim sebentar, lalu melanjutkan “Kenapa kamu nggak bales sms-ku?”
“Ng… Oh… Ng, iya ya? Maaf deh,,, pulsaku abis”
“Telepon. Ng… telepon rumah?”, Donna ingin mematahkan alasan Baim tentang pulsa itu, mengingat masih ada telepon rumah.
Baim yang memahami maksud Donna, berkata “Oh… Ng.. Iya ya? Hhehe… Ng…”
Suasana yang kaku ini tidak pernah terbayang dalam benak Donna. Kenapa Baim berubah?
“O iya.. Selamat ya…”, kata Baim.
Donna mengangkat alisnya, “Selamat apa?”
“Yah.. Selamat… Dah jadian kan
“Jadian?”
“Iya…”
“Memang kata siapa aku dah jadian?”
“Ha? Aku liat kok fotonya… Kamu baru jadian kan
“Apa?”
“Udah nggak usah ngeles, Don.. Aku tahu kamu nggak enak ama aku kan
“Tapi… “, sebelum Donna sempat bertanya lebih jauh, Baim telah berjalan cepat meninggalkan Donna dalam kebingungannya. Sesaat sebelum Baim meninggalkan Donna, raut wajah Baim berubah…menjadi sinis. Sebenarnya ada apa?
Kejadian sore itu belum sempat Donna ceritakan ke Tania. Ia masih terlalu bingung dengan perubahan sikap Baim sampai-sampai Tania selalu memergoki Donna sedang melamun.
“Woey!!! Donna!!! Kenapa kamu ngelamun lagi? Ada
Donna tersadar dari lamunannya, lalu tersenyum..malu.
“Hm? Ada Ada
Donna menggelengkan kepalanya. “Nggak ada apa-apa kok… Hehe… Cuma nilai ulangan fisika yang kemaren aja yang ngebuat aku nge-Blank…”, elak Donna.
Tania mengangkat alis, “Fisika? Tapi nilaimu kan Kan
Donna tersenyum. Ia merasa tidak enak untuk menceritakan masalah Baim, mengingat Tanialah yang berjasa mendekatkan Baim dan Donna. Kalau Tania tahu Baim berubah sikap, pasti Tania akan berbuat lebih jauh lagi untuk mendekatkan mereka. Well, Donna tidak ingin itu terjadi. Kesannya kok merepotkan Tania…
“Nah, daripada nge-Blank gara-gara Fisika, ikutan nonton pameran otomotif yuk! Di univ.A!”, ajak Tania.
“Ha? Univ. A? Acaranya si Firman ya?”, tanya Donna.
Tania nyengir. “Iya…. Hehehehe…. Ayo, ikut!”
Univ.A… Berarti ada Gilang? Yeah, Gilang. Baim pergi, Gilang datang. That’s true. Inbox mesej handpone Donna yang sebelumnya penuh dengan nama Baim, sekarang penuh dengan nama Gilang. Donna yang masih bertanya-tanya mengapa Baim menjauhinya, merasa sangat labil. Gilang datang di saat yang tepat. Gilang seperti sebuah pelarian yang tepat dari kelabilan Donna. Donna membutuhkan seseorang untuk bersandar. Sosok Gilang tergambar sebagai sosok yang dewasa. Ini hal baru untuk Donna and Donna starts to enjoy it. Tapi ini masalah perasaan… Dan perasaan Donna masih jatuh pada Baim.
“Pameran otomotif seperti apa? Duh… Males ah.... Ngapain juga? Gak tertarik ah….”, kata Donna sambil menopangkan dagunya.
“Yah….. Donna! Ikut aja yuk… Di sana kan
Yeah, Gilang… Donna berpikir sebentar. Bertemu dengan Gilang… Kenapa enggak?
“Udah, gak usah terlalu lama mikirnya! Datang aja yuk… “
“Emank kapan pamerannya?”
“Jumat sampai Minggu ini. Kita ke pamerannya hari sabtu aja, abis pulang sekolah. Gimana?”
Donna berpikir lagi.
“Diam berarti iya. Okey?”, Tania tersenyum lebar.
Donna mengangkat bahunya. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Meskipun tawaran Tania cukup membuat Donna tertarik tapi pikirannya terlalu penuh dengan perubahan sikap Baim, Baim, dan Baim.
….To be ContinueD….

yah..
bersambung...
waiting for the next story....
Posted by: Kiki | April 4, 2008 07:05 AM
Donna menyalakan televisi,
Klo pas musim petir, sebaiknya matikan peralatan yang menggunakan teknologi pemancaran seperti TV, radio, dan HP. Klo VCD/DVD player, mp3/mp4 player, komputer gak apa-apa soalnya tidak menggunakan piranti propagasi
Ingatannya mundur menuju peristiwa beberapa tahun lalu.
Emang ada ingatan latihan baris berbaris? Waah, harus diakui, Dian memang kreatif dan inspiratif …
di tengah terik matahari.
Ada koran nasional (kompas ato Jawa Pos, aku lupa) yang memberitakan bahwa di sekitar jam 1 siang, radiasi UV bisa menyebabkan dehidrasi, kanker, dsb.
Hanya Baim dan Donna yang memenuhi lapangan basket.
Dalam Hinduisme, dikatakan bahwa Sri Krisna dan Sri Wisnu dapat memperbanyak diri.
Ia tidak ingin percaya bahwa ternyata Baim memang menjauhinya….
Brarti vektor gerakan Baim berfasa 180 derajat terhadap Donna sehingga besar dot productnya = perkalian biasa magnitude kedua vektor.
“Oh… Ng.. Iya ya? Hhehe… Ng…”
Hehehe, gak bisa lari lho …
Kenapa Baim berubah?
Menurut Sir Ishaq Newton, hal itu karena Baim mengalami gaya yang tidak seimbang. Bahasa teknis matematisnya, Sigma F = ma. Bagi Donna, itu bersifat negatif yang berarti percintaan mereka mengalami perlambatan.
“O iya.. Selamat ya…”, kata Baim. Donna mengangkat alisnya, “Selamat apa?”
Waah, ini adalah semacam impuls dari gaya aksi yang baru, penyebab perubahan momentum. Reaksi Donna adalah mendongkrak alisnya.
“Ha? Aku liat kok fotonya… Kamu baru jadian kan?
Nah ini dia penyebab sigma F = ma
Yah, selamat ya.. Maaf kalo selama ini aku ngeganggu kamu….”
Ada tohokan, ngambek, kecewa karena gak mau Donna menjadi vokalis T2 (lelaki cadangan), kebesaran jiwa, jaim, undangan simpati + empati, dsb.
Udah nggak usah ngeles, Don.. Aku tahu kamu nggak enak ama aku kan?
Bila emosi bicara, maka Donna sebaiknya menundanya, terus coba memulihkannya lagi.
Yah..Nggak apa. Moga-moga langgeng yah ...
Klo tulus, pahalanya besar lho …
Sebenarnya ada apa?
Ada Apa Dengan Baim?
Tapi nilaimu kan lebih bagus daripada aku…. Kamu 65. Nah, aku 55.
Iya, tapi dibanding Andi Octavian Lathif kan jauh …
Jadi, gak usah sedih!! Kan ada temennya..”, hibur Tania
Ia seh, sedih gak perlu, tapi evaluasi dan introspeksi diri agar nilai menjadi Bagus, itu harus …
Tania akan berbuat lebih jauh lagi untuk mendekatkan mereka.
Waah, pasti Tania merangkap dirut PT. Comblang Jaya
Nah, daripada nge-Blank gara-gara Fisika,
Waduh, aku kena getahnya niy, …
Donna yang bertanya-tanya mengapa Baim menjauhinya, merasa sangat labil.
Sebelum Baim datang, Donna stabil. Setelah Baim datang, Donna senang (makin stabil). Jika kemudian Baim pergi, maka Donna seharusnya kembali kepada keadaan semula (stabil), bukan jatuh menjadi sangat labil. Secara teori, ini berarti ada proses pelemahan (attenuation) stabilitas diri Donna pada interval waktu antara Baim datang dan Baim pergi. Tidakkah cinta yang demikian bersifat negatif dan menjadi salah satu sumber penderitaan sebagaimana ajaran sang Budha? Mengapa derita kita cari, mengapa menenggak narkoba? Bukannya menghindirinya?
Donna membutuhkan seseorang untuk bersandar.
Bila kita menuruti Quran yang kurang lebih mengajarkan, “Katakanlah Dialah Allah Yang Tunggal, Allah adalah SANDARAN (yang tepat) …” maka Allah yang akan menjadi pacarmu, dan, sebagai pacar, Tuhan tidak akan pernah mengecewakanmu, bahkan menguatkanmu, menyayangimu selamanya. Tuhan memiliki segalanya, semua akan mendapatkan apapun dariNya kecuali orang-orang yang tidak percaya. Sesuatu yang mudah dikatakan, tidak gampang untuk selalu diingat, dan melaksanakannya jauh lebih sukar.
“Diam berarti iya. Okey?”, Tania tersenyum lebar.
Waah seperti ajaran-ajaran fiqh (hukum Islam) di mana orang tua diajarkan untuk menanyai putrinya sebelum menikahkannya. Jika sang gadis masih perawan dan diam, berarti sang putri setuju. Tetapi bila janda, maka harus ditunggu sampai ia menyatakan persetujuannya.
Donna mengangkat bahunya. Ia tidak tahu harus menjawab apa.
Hadits kurang lebih mengajarkan, “Tinggalkan apa yang meragukanmu untuk mengerjakan yang tidak meragukan”.
tapi pikirannya terlalu penuh dengan perubahan sikap Baim, Baim, dan Baim.
Rasulullah kurang lebih bersabda, “Termasuk di antara ciri baiknya (kualitas) iman seseorang adalah meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya”, apalagi yang membahayakan.
Posted by: Augustus | April 7, 2008 05:43 AM