resah...
Pukul 00.30. Donna sampai ke depan rumahnya. Ia keluar dari mobil Firman. Lalu, Tania berkata, “Hei, Don… Itu tuh papa kamu?”. Donna melihat arah yang ditunjuk Tania. Yah, benar. Itu ayahnya. Beliau baru saja pulang dari kantor, seperti biasa tengah malam begini baru ada di rumah dan berangkat subuh-subuh ke kantor.
“Hm? Iya, itu papaku. Kalo gitu, makasih ya Tan dah nganterin…”, pamit Donna.
“Justru aku yang terima kasih karena kamu dah mau nemenin aku. Ternyata kamu bisa gokil juga ya! Hehehe..”, elak Tania.
Donna tersenyum kecil lalu melambaikan tangannya dan berjalan menuju pagar rumahnya. Ia melihat ayahnya yang akan mengunci kunci pagar itu menghentikan aktivitasnya. Well, Donna tidak perlu membunyikan bel dan membuat gaduh seisi rumah karena ayahnya selalu membawa kunci duplikat pagar setiap hari. Donna tetap berjalan pelan mendekati pagar, diikuti pandangan mata ayahnya.
“Donna? Kamu ngapain?”, ayah Donna membuka percakapan.
“Hehehe… Iya , Pa
Ayah Donna melihat jam tangannya.
“Jam setengah satu?”
“Iya, tadi temen Donna ada yang ulang tahun… Nah, papa sendiri? Kan
Ayah Donna menghela napas. “Jangan sering-sering ya Donna… Hati-hati… Jangan terlalu percaya sama orang”.
Donna merasa tersinggung. Apa maksudnya? Ia merasa ayahnya tidak berhak melarangnya. “Apa maksud Papa? Jadi Donna harus hati-hati sama temen Donna yang lebih perhatian daripada papa?? Harusnya Donna yang harus hati-hati sama papa! Papa yang seperti orang lain…”
Donna diam dan menunggu reaksi dari papanya. Ia tahu ia sudah bicara terlalu banyak. Entah kenapa, emosinya tiba-tiba melunjak.
Ayah Donna tersenyum, senyum sedih. “Semua tidak seperti yang terlihat… Jangan pernah melihat sesuatu hanya dari luarnya saja. Kamu harus belajar untuk melihat sesuatu dari sudut pandang yang lain.”
“Apa sih Papa? Sok nasihatin Donna. Padahal papa sendiri nggak pernah tahu apa yang Donna lakuin! Nggak pernah peduli ama perasaan Donna.. Asal tahu aja ya Pa. kan
Semua uneg-uneg Donna keluar juga…. Tapi reaksi dari ayahnya di luar dugaan Donna.
Ayahnya lagi-lagi hanya tersenyum dengan mata sayu. “Apa Donna merasa kalau papa bukan ayah kandung Donna? Benarkah? Kalau memang itu benar, apa yang akan Donna lakukan?”
Donna membelalakkan matanya. Ia sama sekali tidak percaya bila ayahnya sendiri akan bicara seperti itu. Apakah benar bila ayah Donna bukan ayah kandung Donna ?
“Apa? Apa itu benar , Pa? Papa bukan ayah kandung….?”, Donna masih membelalakkan matanya. Ia tidak percaya….
Lalu, ayahnya terkekeh dengan mata menyipit. Baru pertama ini Donna melihat ayahnya tertawa…. Lalu ayah Donna terdiam. “Lebih baik Donna tidur sekarang. Sudah larut malam.”
Mata Donna kembali normal, sedikit menyipit. “Papa? Papa bercanda kan
Ayah Donna mengangkat bahunya seraya berkata, “Yah… Papa bercanda. Itu jawaban yang kamu mau kan
Donna tidak mengerti arah pembicaraan ayahnya. “Pa, tau nggak? Donna mulai benci ama papa…”, gumam Donna yang tetap terdengar oleh ayahnya.
“Tidurlah…”, kata ayah Donna, masih dengan mata sayu. Namun, kali ini dengan nada memohon.
Donna membalikkan tubuhnya lalu berjalan memasuki kamarnya. Air matanya mengalir. Sebenarnya, ia merasa sangat takut malam itu. Pertama, karena ia baru saja mendatangi party yang membuatnya menjadi orang lain dan ia merasa aneh karena itu. Kedua, perkataan ayahnya terdengar sangat tidak masuk akal…ataukah itu masuk akal? Apakah Donna bukan anak kandung mereka? Donna tidak mau memikirkannya saat ini. Ia membenamkan wajahnya dalam-dalam hingga ia merasa sesak napas.
===========================================================
Donna membuka matanya. Ia tertidur di tengah acara flashbacknya dengan diary-nya. Donna mendengar sayup-sayup adzan maghrib berkumandang. Donna menyeka air matanya. Ia baru sadar bahwa ia baru saja menangis. Kemudian, ia beranjak dari tempat tidurnya, mematikan radio dan menuju kamar mandi untuk mengambil air wudlu.

Pukul 00.30.
Ada World News di Metro TV, siaran ulang dari World News jam 16.30 yang dulu biasa ditayangkan jam 17.30.
Yah, benar. Itu ayahnya.
Jika ini cerita faktual, maka kalimat ini seakan menyatakan bahwa Dian Anisawati berada di luar arena “casting”. Jika demikian, apakah penulis juga pulang larut malam? Demi mengintip kejadian Donna sampai ke depan rumahnya? Kecuali bila ada pihak lain yang tahu keadaan keluarga Donna yang bisa berkata, “Beliau baru saja pulang dari kantor, seperti biasa tengah malam begini baru ada di rumah dan berangkat subuh-subuh ke kantor.” Tapi bukankah Donna tidak cerita sama sapa-sapa?
Justru aku yang terima kasih karena kamu dah mau nemenin aku.
Tuh kan, … ini semua kepentingan Tania aja …
Donna tersenyum kecil lalu melambaikan tangannya
Waah, abis dipaksa-paksa, dibuat tak nyaman, masih bisa senyum?? Hebaat, hebat …. Coba klo ditambah rajin ibadah (shalat, ngaji, belajar, sedekah/zakat, puasa, dst) pasti banyak yang daftar tuh, tak terkecuali aku? Hehehe …
“Iya, tadi temen Donna ada yang ulang tahun… Nah, papa sendiri?
Ini apologi diplomatis + demonstrasi, protes menuntut keteladanan.
Kan juga baru pulang… Jadi kita sama ya Pa?
Waah, yang ini Donna lagi ngajak damai …
elak Donna sambil tersenyum terpaksa
abis dipaksa Tania tu pak …
Hati-hati… Jangan terlalu percaya sama orang.
Betul, apalagi pada setan ato cs nya. Klo pada Tuhan, pasti semua sepakat …
Ia merasa ayahnya tidak berhak melarangnya.
Kok bisa?
Harusnya Donna yang harus hati-hati sama papa!
Ngono yo ngono, neng ojo ngono!
Donna diam dan menunggu reaksi dari papanya.
Donna melakukan provokasi?
Entah kenapa, emosinya tiba-tiba melunjak.
Entah kenapa, benteng pertahanan Donna jebol.
Ayah Donna tersenyum, senyum sedih.
Waah, papa Donna cukup sabar tuh, capek-capek kerja, sampek di rumah malah diprotes anak. Bukannya dipijitin, dihadiahi minum, plus bonus mencium/dicium, dan pelukan.
Jangan pernah melihat sesuatu hanya dari luarnya saja.
Benar, sepakat ….
Kamu harus belajar untuk melihat sesuatu dari sudut pandang yang lain.
Yap …
Apa sih Papa? Sok nasihatin Donna.
Lho …?
Padahal papa sendiri nggak pernah tahu apa yang Donna lakuin!
Masa?
Sebenernya Donna ngerasa asing dengan papa
Hhhh …
Kalau memang itu benar, apa yang akan Donna lakukan?”
Teganya …
Ia sama sekali tidak percaya bila ayahnya sendiri akan bicara seperti itu.
Aku juga gak percaya …, tapi papa kan capek dan Donna bukannya mijitin, ngasih pelukan, ciuman, dan berkata, “Aku saying papa”, tapi malah protes di tengah malam …
“Lebih baik Donna tidur sekarang. Sudah larut malam.”
Betul tuh, besok aja demonstrasinya …
“Papa? Papa bercanda kan? Itu sama sekali nggak lucu, Pa…..”
Brarti Donna sayang papa …
Sekarang tidurlah…
Tapi mulai besok, perhatiannya diperbaiki ya pa …
“Pa, tau nggak? Donna mulai benci ama papa…”,
Aduh, jangan dong …. Papa (dan mama) harta karun yang tak ternilai haganya
“Tidurlah…”, kata ayah Donna, dengan nada memohon.
Brarti papa sayang sama Donna, dan aku yakin bukan ayah-ayahan, ayah fotocopyan, apalagi ayah bajakan.
Klo masih saling mencinta mengapa keras-kerasan, apapun alasannya, tidak ada yang bisa mengubah status ayah/ibu dengan anaknya, apalagi gara-gara dipaksa Tania. Coba besok pagi-pagi, sebelum papa berangkat kantor, Donna siapkan minum spesial kesukaan papa, siapkan sepatunya, bawakan tasnya dan antar sampai pintu, cium tangan + minta dicium papa. Malam, tungguin papa datang dari kantor dengan minuman spesial kesukaan papa. Bawakan tasnya, bukan dasi dan sepatunya, cium tangan + minta dicium, pijitin, tanyain mau mandi air dingin atau panas? Lakukan itu selama seminggu bersama mama dan saudara-saudara Donna. Lalu mulailah berkata bahwa papa kurang adil pada mama, Donna dan saudara-saudara. Nyatakan bahwa Donna bersaudara lebih perlu perhatian daripada uang. Insya Allah, komunikasi akan berjalan lebih baik yang brarti modal besar keindahan dalam keluarga sudah di tangan.
Sebenarnya, ia merasa sangat takut malam itu.
Klo aku gak pernah, soalnya aku biasa tidur di surga sambil didekap dan mendekap bapakku atau ibuku. Rumahku surgaku, Romayana.
yang membuatnya menjadi orang lain dan ia merasa aneh karena itu.
Betul, memang aneh tuh
untuk mengambil air wudlu.
Naa … ini baru Donna yang jelita di wajah juga hatinya … Buka “pendaftaran”?
Posted by: Augustus | April 7, 2008 05:38 AM