August 2008

Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
          1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30
31            
Powered by Friendster Blogs

« Shocking Pink | Main | Dion berkata.... »

More SHOCKING pink..

Donna duduk di bangku kantin, berpikir keras. Ini gila…Apa maksudnya ini semua? Jadi Gilang mengambil kesempatan untuk mencium aku, lalu ada yang memotret… dan aku nggak sadar. Kemudian, foto itu dikirim ke friendster Baim dari profile yang baru dibuat. Baim bertanya kepada Tania. Dan jawaban Tania memperkuat foto tersebut. Jadi…. Aku udah punya cowok, terus aku mau selingkuh ama Baim…Caranya  dengan ngedeketin Baim lewat Tania terlebih dahulu. Tania sebenernya gak mau dijadiin mak comblang karena itu berarti membuka jalanku untuk selingkuh. Gila…….. Ini bener-bener gila… Bener-bener gak masuk akal…Mengaada-ada banget... Memutarbalikkan fakta..... Dan perkataan Baim yang terakhir, ‘Yah, kalo emank kamu bener-bener suka ama aku, putusin dulu cowok kamu….’, itu cuma ngebuat aku gak respek ama Baim.

            Donna menopangkan dagunya. Kenapa aku nggak sadar kalau aku dicium Gilang?Pasti waktu itu, aku lagi blank banget. Suasana di Hydro’s café saat itu remang-remang, bising, dan aku mungkin terlalu bingung oleh situasi seperti itu… Jadi, aku nggak sadar… Dan siapa yang tega motret adegan itu? Lalu mengirimkannya ke friendster Baim?

            Tania? Apakah Tania yang melakukannya? Siapa lagi selain Tania? Gilang atau Firman? Mereka sama sekali nggak tau tentang Baim…Apakah Tania? Donna beranjak dari duduknya, lalu mengambil botol aqua di meja depan, “Bu Lik! Aku bayar besok ya!”, seru Donna. Bu Lik, ibu kantin yang dimaksud menganggukkan kepala seraya berkata, “Oh iya! Ambil aja, mbak Donna!”. Stan kantin milik Bu Lik adalah langganan Donna. Itu membuat segalanya lebih mudah. Donna bisa menghutang. Donna lagi malas mengeluarkan dompet dari tasnya. Mood Donna tidak sedang bagus. Toh, besok juga Donna pasti bayar.

            

            Donna membanting tas selempangnya ke lantai, lalu ia menjatuhkan tubuhnya di atas sofa ruang tengah. Donna mengangkat telepon yang berada tidak jauh dari jangkauannya. Ia sudah mempertimbangkan dengan seksama selama perjalanan pulang dari sekolah ke rumahnya bahwa ia sebaiknya membicarakannya pada Tania. Ia baru mau menekan tuts angka yang ada di telepon sampai ia mendengar suara yang memanggilnya,

            “Donna.”

            Donna menoleh. Dion yang memanggilnya.

            Donna cukup terkejut. Mas Dion?

            “Ng… Ada apa mas Dion? Tumben ada di rumah siang-siang gini….”, tanya Donna. Jarang-jarang Dion mengajak bicara Donna dengan tatapan yang sangat serius.

            “Kamu ke pameran otomotif universitas A  ya?”, nada bicara Dion penuh dengan selidik.

            “Ha…. Ng, iya. Kenapa emank?”, tanya Donna.

            Dion menggeleng-gelengkan kepalanya. “Kamu emank gak ada bedanya ama mama, ama papa…”, kata Dion, sinis.

            Donna membelalakkan matanya. “Apa sih maksud mas Dion? Apa hubungannya pameran otomotif ama mama papa?”

            Dion tidak menggubris pertanyaan Donna, tetapi mengeluarkan laptop dari tas ranselnya. “Tunggu aja sampek kamu ngeliat foto-foto ini…”

            Donna mengangkat alisnya.

            Tidak lama kemudian, Dion menunjukkan foto-foto melalui monitor laptopnya. Donna membelalakkan matanya. Mulutnya menganga lebar, ia menutupnya dengan kedua tangannya. Dion terus menekan tombol panah kanan pada keyboard laptopnya. Foto-foto berkelabatan pada monitor laptop dan Donna tetap membelalakkan matanya. “A…apa ini?”, tanya Donna.

            “Masih nggak tau? Atau pura-pura nggak tau?”, Dion bertanya balik sambil menatap tajam ke dalam mata Donna. “Ini foto-foto kamu waktu di pameran otomotif! Aku baru aja menemukannya di file temenku yang juga panitia pameran itu. File foto-foto ini udah tersebar ke seluruh mahasiswa universitas A dan menjadi bahan tontonan cowok-cowok univ.A. Aku baru aja sadar kalo ternyata yang ada di foto itu, kamu, Don!”, jawab Dion ketus.

Donna baru ingat kalo kakaknya itu kuliah di Univ.A. Pertemuannya dengan Dion yang sangat jarang membuat ia lupa segalanya tentang Dion. Donna mengalihkan pandangannya dari monitor laptop ke Dion. Segalanya terasa jelas. Saat mengunjungi pameran otomotif, ia ingat betul ada yang memotretnya dari dekat. Ia terus-menerus mendengar suara jepretan kamera di dekatnya. Inikah hasilnya? Foto-foto itu menampilkan Donna dari segala sisi. Dari atas hingga bawah. Sedetil-detilnya, detil yang paling kecil, bahkan bagian-bagian yang tidak pantas untuk dipotret secara close-up-pun ada.

            Kejadian-kejadian di pameran otomotif mulai ikut berkelebatan di kepala Donna. Setelah ia merasa diikuti oleh seseorang, Gilang memperkenalkan anggota sie dokumentasi, Udik , yang baru saja memotret mereka. Lalu, saat pamit untuk pulang, Tania bertanya pada Gilang tentang apakah Gilang sudah mendapatkan sesuatu dan Gilang menjawab ‘sudah’. Apakah ini semua berhubungan? Baim? Tania? Hydro’s café? Lalu pameran otomotif?

            Pertanyaan Dion menjelaskan semuanya, “Siapa yang mengajakmu ke pameran otomotif?”

            Donna menjawabnya dengan ragu, “T…Ta…Tania….”

            “Yeah, Tania? Cewek ya? Kenapa fotonya nggak ada? Kenapa cuma kamu yang dipotret?”, tanya Dion.

            Donna bingung lalu melihat-lihat lagi foto-foto tersebut. Benar, tidak ada foto Tania.

            “Lagian, buat apa sih kalian ke pameran itu? Apa kalian ngerti tentang otomotif? Kamu tertarik ama mesin-mesin gitu?”

            Donna bingung mau menjawab apa. Buat apa? Aku memang mau karena diajak Tania dan juga untuk bertemu dengan Gilang… “Aku… aku tertarik kok…”, Donna mengelaknya.

            “Oh ya? Ah… nggak usah bohong deh! Kamu datang ke situ karena mau ketemu ama Gilang kan?” Donna merasa tertangkap basah. “Aku denger sendiri Gilang yang ngomong. Tau dia ngomong apa? ‘Gimana hasil kerja anak buahku ini? Tokcer abis! Lagian si cewek SMA ini tolol banget mau aja datang ke pameran otomotif. Diliat dari mukanya aja, dia tuh nggak nyambung ama mesin-mesin yang ada di pameran itu. Dia datang cuma buat ketemu aku loh!!’ Dia ngomong itu ama ketawa-ketawa gitu”, kata Dion. Donna memandang Dion dengan pandangan tidak percaya.

“Mas Dion bercanda kan?”

“Yah, terserah kalo gak percaya.. Toh foto-fotomu juga udah tersebar... Aku denger sendiri. Namamu juga disebut-sebut. Jadi nggak salah lagi deh..”, Dion masih melihat Donna dengan pandangan tajam. “Udah tau kalo univ.A tuh tempat mahasiswa cowok yang bakalan klepek-klepek kalo ada cewek, apalagi masih SMA kayak kamu, tetep aja datang ke pameran. Itu sama aja kayak menjatuhkan diri ke lubang buaya, tau gak?”, Dion menggeleng-gelengkan kepalanya.

            Donna mengalihkan pandangannya dari Dion. Kata-kata Dion sangat tajam, menusuk hati Donna. Donna memang sangat tidak nyaman saat pameran otomotif. Hanya mereka satu-satunya yang berjenis kelamin perempuan. Pengunjung lainnya rata-rata cowok.

            “Aku juga nggak tau kalo kamu bakalan ke sana. Temen-temen juga pada nggak tau kalo kamu tuh adikku. Jadi it doesn’t make a sense to me. Aku cuma mau bilang ke kamu aja, kalo kamu tuh nggak ada bedanya ama mama!”

            Donna mulai berkaca-kaca, “Mama? Apa sih maksud mas Dion?”, kata Donna dengan suara tinggi.

            “Huh… Hanya dengan melihatnya aja aku udah tau Don! Oke, dengerin pendapatku ya, kamu datang ke pameran otomotif karena ajakan si Tania itu, kayaknya Tania itu kerja sama dengan Gilang untuk motret kamu karena dia gak ikut dipotret…atau mungkin karena dia gak punya sesuatu buat dipotret? Nggak tau juga. Yang pasti mereka udah punya rencana itu, Don. Dan kamu…kamu mau aja datang, mau aja menerima ajakan Tania. Dan sekarang foto-fotomu tersebar…. Dan ini bukan foto biasa kan? Kamu liat sendiri… ini dah menjurus banget… Cara pengambilannya bener-bener gila.”

            Donna tidak bisa menahan untuk menangis. Ia mulai menarik benang merah dari semua peritiwa ini dan ini berujung ke Tania. Mulai dari ajakan Tania ke Hydro’s café, lalu kiriman foto ia sedang dicium Gilang di Hydro’s café ke friendster Baim, kemudian ajakan Tania ke pameran otomotif, lalu foto-foto ini….. Apakah ini perbuatan Tania? Benarkah? Untuk apa ia melakukan semua ini?

            “Terlalu mudah percaya orang lain…. Mudah dibohongi…. Mungkin itu sudah turunan keluarga ini ya….”, kata Dion dengan nada sinis.

            Donna sudah mendapat kejutan yang tidak menyenangkan hari ini karena foto-foto yang melecehkan dirinya tersebut, ditambah dengan kata-kata sinis dari Dion, Donna tidak tahan lagi, lalu ia beranjak dari kursinya, “Maksud mas Dion tuh apa sih?!!!”, tanya Donna dengan nada tinggi lalu air matanya mengalir dengan deras.

            Dion menatap tajam ke arah Donna.

"Aku.... Aku tuh....kaget banget ama foto-foto ini... bisa nggak sih diem bentar.... nggak ngomong yang macem-macem.....", Donna berkata dengan terbata-bata, mengiringi tangisannya. Dion diam, masih memandang Donna dengan tajam, menghela napas panjang, mengalihkan pandangannya dari Donna, lalu berkata, “Donna… Aku rasa sekarang saatnya kamu tahu… Duduklah….”, nada bicara Dion melemah hingga Donna menurut untuk duduk kembali. Wajah Dion sangat serius, tidak seperti biasanya. Donna belum tahu bahwa Dion akan mengatakan sesuatu yang membuat hidup Donna berubah.

                            

Comments

HEHEHE... KEREN!! =)

ahh.. Yan, pindah blogger atau wordpress ajah yan.. sayang naskahnya. Pindah ya! kalo ga pindah kebacut! heheh

Post a comment

Post a comment

Name:

You are currently signed in as .